Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Memburu Jaeni

Memburu Jaeni

Memburu JaeniIlustrasi: Nadia Permatasari/detikcom

Jakarta - Kami berlarian mencari sepeda ke rumah masing-masing. Kami tidak sempat menjawab anak-istri kami yang bertanya setengah berteriak, "Mau ke mana, Pak?" Kami lompat ke sadel, menggenjot pedal yang sebagian utuh dan sebagian telah lepas sehingga sepeda itu seakan melompat ke udara serasa seekor kuda pacuan.

Di jalan Dukuh Dawuan ke arah selatan sepeda kami berhamburan. Petang yang mulai turun tidak menghambat kami untuk memacu sepeda kami menuju Kali Brantas. Sepeda kami bersilangan sebelum menemui jalan besar. Roda-roda sepeda melesak ke dalam jalanan berdebu. Kami tidak peduli jalanan berdebu dan lengket di wajah kami. Kemarau sedang di puncak musimnya sehingga jikalau siang hari di jalan kami berhamburan terlihat debu mengepul.

"Segera kita ke tambangan Kali Brantas! Sebelum Jaeni lenyap digondol setan!" teriak Kang Muji di tikungan Kali Apak. Tangan kanannya bergerak-gerak pertanda kami harus segera tiba. Sepedanya besar, lengkap dengan lampu dan pembonceng. Waktu Kang Muji menggenjot pedalnya, lampu itu menyala. Listriknya berasal dari dinamo kecil yang kepalanya beradu dengan karet ban depan.

Di langit barat Dukuh Dawuan tampak semburat warna lembayung. Awan-awan beriringan dari selatan tampak kuning tua. Semburat senja membentang di atas kaki langit cerah. Sementara di kaki bawahnya gelap menggaris sepanjang arah selatan ke arah utara. Gelap itu yaitu jejeran pepohonan dan bambu-bambu yang tidak terkena cahaya senja. Pepohonan itu berdiri di sepanjang pinggiran Kali Ewuh.

Di jalanan berdebu membujur ke selatan rupa kami timbul karam dalam laju bersepeda. Tubuh-tubuh kami tampak mulai terliputi gelap. Yang berpakaian warna putih terlihat menonjol. Yang berpakaian agak gelap apalagi hitam, hanya terlihat gerombolan hitam bergerak-gerak. Tak ubahnya orang-orangan yang berdiri di tengah sawah sepanjang kami memacu sepeda.

Kami pacu sepeda di tengah persawahan yang gelap. Udara dipenuhi serangga-serangga kecil yang hidup di tanaman padi. Belalang kecil-kecil dan jentik sering masuk ke hidung kami. Kami tidak peduli. Dalam bayangan kami Jaeni harus kami temukan dan bawa pulang sebelum setan itu membawa ke alam gaib.

Kami tidak bicara satu sama lain. Kami sibuk dengan pedal-pedal sepeda kami dan pikiran kami sendiri. Udara masbodoh turun di waktu malam ekspresi dominan kemarau tidak terasa oleh kami. Napas kami naik turun dengan cepat seirama dengan kecepatan kaki-kaki kami.

Pada tikungan pertama sesudah melintasi persawahan yang luas, Kang Muji mengarahkan sepedanya ke kiri. Kami segera mengikuti arah lampu sepeda Kang Muji. Ketika hingga di jalan pertama masuk Dukuh Pakel, sepeda Kang Muji belok ke kanan. Kami pun segera mengarah ke kanan. Sampai kami tiba di jalan yang lebih gelap di bawah gerumbul pepohonan besar. Lampu sepeda kang Muji membelah kegelapan jalan setapak itu.

Di jalanan menurun kami tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali turun dari sepeda. Lampu sepeda Kang Muji redup. Kami menyalakan korek kapas. Sambil jalan beriringan di antara sepeda kami turun. Sampai kemudian kami lihat gubuk agak terang di pinggir kali. Ya, itu Kali Brantas yang terlihat dari liukan tubuh sungai. Di kanan-kiri sungai tampak gelap oleh rindangnya pepohonan.

"Ke mana larinya Jaeni?" tanya Kang Muji kepada orang di gubuk itu. Di samping gubuk terdapat bahtera penyeberangan yang ditambatkan di salah satu tiang gubuk.

"Ia lari ke arah gerumbulan di tegalan gelap itu. Temannya penakut. Tidak segera mengejar, tetapi malah berteriak-teriak minta tolong."

"Lalu?" potong Kang Muji.

"Sia-sia," jawabnya. "Saya mustahil meninggalkan bahtera ini. Bila malam sering air naik dan berbahaya bagi perahu. Saya tidak sanggup membantu. Saya suruh orang yang menemani Jaeni segera minta pertolongan ke kampung."

"Jaeni lenyap?" tanya Kang Muji menegaskan.

"Yah...." balas tukang perahu.

'"Hhhhh....Ayo segera naik ke tegalan itu. Kita cari Jaeni hingga ketemu!" perintah Kang Muji kepada kami.

Di tengah kegelapan yang menguasai pinggiran sungai itu, kami letakkan sepeda. Kami jejer dan kunci. Sepeda kami titip ke tukang perahu.

Kami segera naik ke tanah yang agak tinggi dan gelap. Tempat itu niscaya tegalan yang tidak terurus berupa pohon kelapa dan segala pohon besar lainnya. Kami meraba-raba dalam gelap. Luar biasa gelap. Kami mau temukan apa di sini? Di mana Jaeni yang hendak kami cari itu? Aneh ini.

Tapi, kami terus susuri tegalan gelap itu hingga di ujung jalan yang agak terang. Tampak rumah-rumah dengan lampu minyak di pasang di teras-teras rumah di Dukuh Pakel.

Kang Muji yang berada di depan kami, tampak ragu mau ke mana.

"Aku mau ketemu kepala dukuh dulu di ujung sana. Kalian sanggup ikut, tetapi sebagian tetap mencari Jaeni," kata Kang Muji.

Kami berpencar. Ada yang ke kiri masuk dalam jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah. Ada yang terus ke jalan dukuh yang agak lebar di antara depan rumah. Sementara saya bersama Kang Muji menuju rumah di ujung selatan dukuh. Rumah kepala dukuh berada persis di depan hutan jati perhutani.

Sampai di rumah kepala dukuh Kang Muji berkata bahwa ia sedang mencari Jaeni yang telah hilang sore tadi. Jaeni melompat waktu naik bahtera hendak menyeberang ke dusun selatan Kali Brantas.

"Mau ke mana Jaeni itu?" tanya Pak Kepala Dukung Pakel.

"Mau pulang. Mau bertemu bapak-ibunya di Dukuh Ngeni," kata Kang Muji.

"Ya, biar saja, kenapa dicari-cari ibarat memburu maling?" tanya Pak Kepala Dukuh.

Kang Muji menjelaskan Jaeni ini bukan mau pulang ibarat biasanya. Jaeni ini sedang dalam dampak mahkluk gaib. Ia sudah dua kali melarikan diri. Pertama ia berlari kencang dari rumahnya pada selepas petang ke arah tegalan di selatan kampung Dawuan. Ia tampak ibarat dikejar-kejar seseorang. Ia berlari sangat kencang dari rumah dan melintasi persawahan luas di timur rumahnya. Ia berlari diantara parit-parit kecil yang sulit dilalui. Tetapi, Jaeni sanggup menapakinya dengan mudah. Bahkan berlari kencang di atasnya. Kami sedukuh memburu Jaeni. Tua, muda, anak-anak, perempuan, pria berhamburan keluar rumah membawa penerangan seadanya mengejar Jaeni.

Jaeni berhasil dikembalikan ke dukuh. Ia sedang duduk menggigil di bawah pohon maoni di Kali Bukur. Ia duduk di antara kerikil padas di pinggir kali. Kami gendong bergantian si Jaeni di sepanjang pematang menuju ke Dukung Dawuan kembali. Tubuhnya lemas tidak berdaya.

Keluar dari rumah kepala Dukuh Pakel kami segera keluar mencari kembali si Jaeni. Kami diiringi Pak Dukuh. Pak Dukuh keluar menuju kentongan. Ia pukul kentongan bertalu-talu sehingga bunyi itu pertanda thithir. Suara bertubi-tubi pertanda sedang ada ancaman di Dukuh Pakel. Penduduk harus segera keluar rumah untuk berjaga-jaga.

"Telah hilang saudara kita Jaeni dari Dukuh Dawuan di utara. Orangnya pendek, kulit gelap, kepala plontos mengenakan kaos merah, celana panjang hitam, sandal jepit warna hijau!" teriak Pak Kepala Dukuh Pakel di sepanjang jalan tengah dukuh. Ia berulang-ulang meneriakkannya.

"Sore tadi sebelum gelap Jaeni masuk desa ini dari tambangan dukuh kita. Ia melompat dari bahtera dan masuk ke tegalan samping tambangan. Sampai kini belum ketemu. Kalau tahu orang dengan ciri ibarat Jaeni segara laporkan!" kata Kepala Dukuh.

Orang-orang Pakel keluar dengan obor di tangan. Mereka berjalan merayap di tengah malam mengelilingi desanya. Obor-obor menciptakan dukuh yang gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang. Diiringi bunyi kentongan bertalu-talu menciptakan Dukuh Pakel menjadi ibarat orang yang gres saja bangun tidur. Orang-orang dengan muka cemas disertai keingintahuan yang besar tampak di raut wajahnya.

Dukuh Pakel terletak bersahabat hutan jati. Dukuh ini sangat terpencil. Tidak ada desa di sekelilingnya. Sisi timurnya berupa hutan jati amat luas. Tidak ada dukuh lagi sebelah timur itu. Di arah selatan mengalir Sungai Brantas yang damai dan besar. Sungai ini bagaikan ular naga yang siap melahap apa saja ke dalamnya. Di utaranya yaitu persawahan yang sangat luas. Sehingga orang di sisi utara hanya akan melihat garis kaki langit dan perbukitan saja ketika memandang ke arah selatan. Pohon-pohon jati itu laksana rerumputan dipandang dari Dukuh Dawuan. Sementara sisi baratnya yaitu persawahan yang maha luas, sehingga sejauh titik memandang ke barat yaitu segaris hitam. Pada sore menjelang petang, Dukuh Pakel akan ibarat noktah hitam di tengah belantara kegelapan alam.

"Coba kita lihat di sumur bata merah di tengah dukuh," kata seseorang lelaki bau tanah di antara kami. Ia mendekat ke Kang Muji.

"Sumur itu ibarat besi sembrani. Ia akan menyedot apa saja yang bersifat gaib," kata orang bau tanah itu.

Tanpa pikiran panjang saya dan Kang Muji mengikuti Pak Tua ke Sumur merah yang dimaksud. Beberapa sobat dari Dukuh Dawuan juga ikut. Lelaki bau tanah itu berjalan dengan lampu minyak di tangan kanan. Kulit wajahnya berkeriput. Matanya agak keputihan. Rambutnya dibiarkan memanjang diliputi rambut berwarna putih.

Akhirnya kami tiba di sumur merah. Mulut sumur lebih luas dari sumur biasanya. Tidak ada tali dan bejana untuk mengambil air di dalamnya. Di sisinya tampak rumput-rumput memenuhi sekeliling sumur. Dalam gelap itu Pak Tua bicara.

"Sumur ini sudah ada semenjak sebelum saya lahir dan nenek-kakekku lahir. Sumur ini dipercaya obat dari segala penyakit dan dilema yang ada di dukuh ini. Segala penyakit dan peristiwa alam sanggup disembuhkan dengan sumur ini. Aku yakin si Jaeni tetanggamu itu masuk di dalam sumur ini."

Suara Pak bau tanah itu terdengar terperinci di antara kami. Kang Muji membisu saja mendengar klarifikasi Pak Tua. Ia bangun dari diamnya dan menyampaikan akan bertemu dengan pihak keluarga mertua Jaeni.

"Orangtua Jaeni sendiri di mana?"

"Di Dukuh Ngeni."

"Oooh...."

Dukuh Ngeni yaitu dukuh paling tersembunyi dan jauh. Dukuh ini hanya sanggup dicapai dengan jalan kaki. Jalannya sempit dan terletak di kaki bukit-bukit.

Esok harinya keluarga mertua Jaeni beserta istri tiba ke sumur merah dan Pak Tua. Dari ide yang diterima Pak Tua mahkluk mistik di sumur itu minta diadakan selamatan. Selamatan diadakan pada malam Selasa Wage di samping sumur merah. Dalam selamatan itu diminta sediakan kepala kambing warna hitam kelam. Seluruh bab kambing itu harus berwarna hitam.

Selamatan itu alhasil diselenggarakan. Dengan memaksa menjual apa saja mertua Jaeni berhasil menyediakan kepala kambing hitam mulus. Pak Tua menyampaikan seminggu lagi Jaeni akan pulang sendiri ke rumah mertua di Dukuh Dawuan. Mertua Jaeni percaya apa yang dikatakan Pak Tua itu. Mertua Jaeni yakin dengan mengadakan selamatan di tepi sumur merah menantunya sanggup ditemukan.

Jaeni yaitu menantu satu-satunya. Jaeni menikah lima tahun lalu. Jaeni mengaruniakan seorang cucu berjulukan Reko. Cucu ini persis ibarat Jaeni. Badannya gempal, tetapi pendek. Kulitnya kecoklatan, rambutnya tumbuh sedikit di kepala. Perlu usang untuk panjang, padahal temannya telah dua kali pangkas rambut.

Jaeni yaitu pelita bagi sang mertua. Ketiga anaknya semua perempuan. Ada Tri, Sulami, dan Is. Anak yang sulung berjulukan Is inilah yang kawin dengan Jaeni. Kehadiran Jaeni tidak lain impian bagi si mertua. Jaeni segera menggantikan dirinya sebagai kepala keluarga. Jaeni akan menggarap semua sawah yang ia miliki. Semua binatang piaraannya akan dipelihara Jaeni. Dia akan tentram menjalani hari tua.

Jaeni orangnya tertib dalam pandangan kami. Setiap hari ke sawah. Pulang dari sawah makan siang seraya istirahat sebentar. Usai lohor balik ke sawah dan pulang menjelang senja tiba dengan membawa satu karung besar berisi rumput untuk sapi. Rumput itu niscaya rumput yang terbaik dan telah dicuci higienis di Kali Ewuh sebelumnya. Malamnya tidak pernah nongkrong di perempatan jalan kawasan kami ngomong ngalor-ngidul hingga dini hari. Kadang kami tidak ke sawah lantaran kesiangan. Garapan sawah kami menjadi kacau. Air membludak melewati pematang sawah. Atau, sawah kekeringan berhari-hari lantaran tidak ada yang ke sawah. Kami sedukuh orang yang sering ngobrol yang tidak penting, tetapi sanggup menciptakan kami tertawa-tawa. Hidup kami melarat. Kadang kami makan sehari, kadang besoknya tidak. Pakaian kami compang camping tak beda dengan pengemis. Dinding-dinding rumah kami terdiri dari anyaman bambu peninggalan kakek-nenek kami. Kami tidur di atas tumpukan kayu dan jerami.

Kehadiran Jaeni menciptakan kami berubah. Kami mulai pergi ke sawah dengan rajin. Mengurangi pergi ke tetangga untuk bicara-bicara yang tidak perlu. Semua itu kami tiru dari Jaeni. Meskipun ia berasal dari Dukuh Ngeni yang terpencil dan teramat miskin, Jaeni orang pilihan di mata kami.

Untuk itu, kami harus menemukan Jaeni. Jaeni telah bersama kami lima tahun dan memberi contoh baik yang sulit kami temukan di warga Dukuh Dawuan. Kami harus temukan Jaeni. Jaeni harus menjadi milik kami. Kami tidak keberatan berlari-lari mengejar Jaeni. Menggenjot sepeda malam-malam buta. Berjalan di kegelapan yang menyiksa untuk memperoleh Jaeni kembali.

"Mustahil Jaeni kembali. Mustahil!" kata Rohkono menohok kepadaku di rumahnya pada sebuta pagi yang dingin. Matanya tajam menyorot ke mataku.

"Kau boleh percaya omonganku. Aku orang yang paling bersahabat dengan simbok-mu. Semenjak kecil saya tahu keluarga mbok-mu. Begitu juga keluarga mbok-mu, Mbah Jolah, sangat tahu keluargaku. Jadi, kamu boleh percaya omonganku."

Mbah Rohkono nyaris tak berkedip. Aku alihkan tatapanku lantaran tak besar lengan berkuasa dipandangi dengan tajam.

"Terus bagaimana Mbah?" kataku.

"Jaeni hilang, selamanya. Semenjak anaknya usia tiga tahun, Jaeni sudah diincar oleh tiga setan dari Gunung Emas. Pikiran Jaeni kosong semenjak dikala itu. Pikiran kosong sangat disenangi para setan. Mereka memboyong Jaeni ke sarangnya di Gunung Emas."

Aku tidak berkata-kata lagi. Diam terkesima mendengar penuturan Mbah Rohkono. Rokok klobot jagung yang digulung dibakar Mbah Rohkono. Baunya tajam memenuhi ruang tengah.

"Kau ini terlambat tiba ke sini. Sebenarnya pada kehilangan pertama, segera kamu ke sini. Masih sanggup saya selamatkan Jaeni. Aku pagari dengan gaibku. Para setan itu niscaya tidak akan menggondol Jaeni," bunyi Mbah Rohkono membelah kesunyian.

"Tetapi, kini segalanya sudah terlambat. Aku sudah tidak sanggup mengembalikan Jaeni hidup atau mati. Ia sudah berada di sarang para setan penunggu Gunung Emas."

Aku simak bunyi Mbah Rohkono dengan khidmat. Suaranya menyelinap dalam sanubariku yang paling dalam. Suara itu seakan mengalir bersama darah di sekujur tubuhku.

Mbah Rohkono tiba-tiba berdiri di hadapanku. Mengibaskan kemeja hitamnya. Aku mendongak untuk melihatnya.

"Dan ingat, tidak ada dukun mana pun yang sanggup mengembalikan Jaeni ini. Kau cari dukun di seantero Pulau Jawa tidak ada yang akan bisa. Kau dengar ya. Aku bersumpah minum air kencingnya bila ada dukun yang sanggup." Suara Mbah Rohkono tinggi meyakinkan. Seakan ada keraguan mengenai pernyataan yang ia buat bila suaranya datar.

Aku mengangguk. Aku tidak menjawab apa pun hingga kemudian Mbah Rohkono bangun dari duduknya kemudian berjalan ke pintu samping. Aku terdiam di ruang tengah. Aku disuruh orang dukuh untuk ke Mbah Rohkono untuk mencari bantuan. Aku dipercayakan oleh mertua Jaeni untuk menemui Mbah Rohkono. Aku berangkat berbekal salam dari mbok-ku. Tanpa salam itu mustahil saya pribadi diterima di kamar tengah Mbah Rohkono.

Tapi, apa yang akan kusampaikan di depan mertua Jaeni? Jaeni hilang digondol tiga setan ke Gunung Emas, begitu? Apa tidak akan pingsan dan digotong ke balai-balai apabila kutambahi Jaeni tidak akan sanggup dibawa pulang alasannya ia telah menjadi keraknya Gunung Emas?

Ucapan Mbah Rohkono saya simpan dalam hatiku sendiri. Tidak seorang pun kuberitahu. Aku yang merupakan keluarga jauh mertua Jaeni, tidak lagi semangat mencari Jaeni. Aku biarkan orang-orang berbulan-bulan lamanya tanpa kendur mencari keberadaan Jaeni. Aku peduli dengan Jaeni dengan cara kembali ke sawah dengan rajin. Mengairi sawah, menangkap tikus-tikus yang berkeliaran memakan tanaman apa saja di sawah, mencabuti rumput, memupuk, dan mengusir burung-burung ketika padi mulai menguning.

Orang-orang Dukuh Dawuan terus mencari tanpa peduli rumah tangga. Bertahun-tahun kemudian para wanita Dukuh Dawuan pergi ke pinggiran kota-kota menjadi buruh pabrik sepatu, termasuk istri Jaeni, Is, bersama anaknya. Mereka tinggalkan anak dan suaminya yang masih mencari Jaeni. Dukuh Dawuan menjelma semak belukar dan rumah-rumah tak ubahnya gugusan gubuk-gubuk.

Aku masih di sana di Dukuh Dawuan. Mengairi sawah hingga kemudian memanen padi. Menimbunnya di kamar khusus padi untuk persediaan bulan-bulan paceklik di masa mendatang yang sering menerpa Dukuh Dawuan. Saat itu saya menjadi teringat Jaeni.

Karawang, Agustus 2018

Catatan:
Tambangan: jasa penyeberangan sungai dengan memakai bahtera yang banyak ditemui di Sungai Brantas, khususnya sebelum banyak dibangun jembatan. Perahunya terikat pada tali/tambang kawasan roda yang bertali menghubungkan dengan ujung perahu. Perahu tinggal dikayuh dengan dayung berupa galah atau ditarik dengan tali lain yang menghubungkan tiang di kedua sisi sungai.

Imam Muhtarom buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan (Grasindo, 2007), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Rebecca Fanany dari Deakin University Australia untuk agenda Frankfurt Book Fair 2015 berjudul The House that Looked Blue in the Moonlight. Peneliti etika tradisi di pesisir pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (2016-2018), kini aktif di Asosiasi Tradisi Lisan, kurator pada Borobudur Writer and Cultural Festival, dan dosen.

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan abjad detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari IniLuncurkan Buku 'The Naked Traveler 8', Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini Foto: Asep Syaifullah/detikHOT

Jakarta - Penulis Trinity bakal menjumpai pembacanya hari ini lewat peluncuran buku 'The Naked Traveler 8'. Momen tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Trinity.

Peluncuran buku bersifat terbatas dan khusus pembaca beruntung yang mengikuti sistem pre-order seri perpisahan tersebut. Kepada detikHOT, Trinity menuturkan peluncuran bukunya ditetapkan pada 11 Januari.

"Kebetulan pas ulang tahun saya dan yang mengikuti farewell 'The Naked Traveler' cuma pembaca yang beruntung saja," kata Trinity di kantor detikHOT tempat Tendean, Jakarta Selatan, belum usang ini.



Trinity mulai menuliskan perjalanannya di blog pada 2005 lalu. Selama 11 tahun, Trinity menulis kisahnya ke blog dan juga buku yang diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka.

Selama 11 tahun pula, Trinity mengakui ada banyak perubahan dalam karya maupun gaya jalan-jalan.

Tonton video: Pensiun, ''The Naked Traveler'' Berakhir di Seri ke-8

[Gambas:Video 20detik]


""Dari segi cara menulis tentu berbeda. Kalau nulis yang awal kok kayak gitu. Tulisannya kini lebih bermakna, lebih mature, dan mendalam," pungkasnya.

Diterbitkan oleh Bentang Pustaka, peluncuran bakal berlangsung di TEMPO Institute, tempat Palmerah, Jakarta Barat.



Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers And Readers Ekspo 2019 Dibuka

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers And Readers Ekspo 2019 Dibuka

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 DibukaSeleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Foto: UWRF/ Istimewa

Jakarta - Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019 segera hadir 23-27 Oktober mendatang. Yayasan Mudra Swari Saraswati forum yang menaungi UWRF pun membuka seleksi agenda penulis emerging atau pendatang baru.

Pemilihan pemenang menurut sejumlah kriteria di antaranya kualitas karya, prestasi, dan konsistensi dalam berkarya. Dalam keterangan pers yang diterima detikHOT, persyaratannya merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan.

Karyanya pun merupakan karya fiksi berupa novel, dongeng pendek atau puisi, serta belum pernah diterbitkan. Isunya dapat apapun dari info sosial, budaya, hingga lingkungan. Seluruh karya pun bakal diseleksi dewan kurator yang terdiri dari tim penulis Indonesia.

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Foto: UWRF/ Istimewa

"Karya terpilih akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan ke dalam buku dwi bahasa antologi 2019," tulis keterangan pers.

Program penulis emerging sukses memperkenalkan penulis Indonesia ke kancah internasional. Di antaranya mereka yaitu Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Aprila R.A Wayar (2012), Bernard Batubara (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erikson Pasaribu (2015), Azri Zakkiyah (2016), Ibe S. Palogai (2017), dan Andre Septiawan (2018).

Batas final pengiriman hingga 15 Maret mendatang. Karya terpilih diumumkan final Mei.


Lee Mingwei Akan Selesaikan Lukisan Pasir Yang Ada Di Museum Macan

Lee Mingwei Akan Selesaikan Lukisan Pasir Yang Ada Di Museum Macan

Lee Mingwei akan Selesaikan Lukisan Pasir yang Ada di Museum MACANLee Mingwei akan Selesaikan Lukisan Pasir yang Ada di Museum MACAN Foto: Museum MACAN

Jakarta - Museum MACAN tengah memamerkan karya 3 seniman Asia hingga Maret mendatang. Akhir pekan ini, seniman Lee Mingwei asal Taiwan/Amerika bakal menuntaskan lukisan pasir yang menjadi salah satu karya di festival tunggal 'Tujuh Kisah'.

Di karya seni instalasi 'Guernica in Sand' (2006-2018), Lee Mingwei akan menuntaskan bab lukisan yang belum selesai. Pengunjung diundang untuk berjalan di atas pasir.

Nantinya seniman dan audiens menjadi bab dari proses penciptaan dan penghancuran yang berlangsung secara simultan. Aksi Lee Mingwei dimulai dikala siang hari hingga matahari terbenam pada Sabtu (19/1), sesudah pengunjung terakhir berjalan di atas pasir, Lee dan tiga penampil akan menyapu lukisan itu.



Serta membiarkannya dalam kondisi tersebut hingga simpulan pameran. 'Guernica in Sand' ialah karya instalasi berskala besar yang terinspirasi dari lukisan Pablo Picasso 'Guernica'.

Lukisan Picasso tersebut menjadi simbol universal antiperang dan perdamaian. Di hari yang sama, dalam karya 'Our Labyrinth' pengunjung akan berjalan mengelilingi pameran.

Nantinya akan ada seorang penari yang perlahan-lahan menyapu gundukan beras dengan sebuah sapu. Serta membuat contoh yang menjadi jejak visual dari gerakan mereka. Performans di karya Lee Mingwei bakal dimeriahkan oleh penari dari Jambi, Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Esok harinya pada Minggu (20/1), Museum MACAN menyediakan sesi minum teh bersama yang bakal mengenal lebih jauh proses kreatif di balik karya-karya Lee Mingwei. Sesi ini berbayar dibanderol Rp 150 ribu.



Petualangan Spider-Man Berlanjut Di Komik Friendly Neighbourhood

Petualangan Spider-Man Berlanjut Di Komik Friendly Neighbourhood

Petualangan Spider-Man Berlanjut di Komik Friendly NeighbourhoodFoto: Sony

Jakarta - Petualangan semesta Spider-Man belum berhenti. Di komik 'Friendly Neighbourhood Spider-Man #1' yang terbit pekan ini di AS, kisahnya berlanjut di lingkungan rumah Peter Parker atau Spider-Man dan Bibi May.

Komik yang disebut salah satu komik terbaik yang terbit di awal tahun menceritakan hubungan antara Peter Parker dan bibinya, May. Di panel awal, May menulis surat kepada Peter, "Peter sayang, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau khawatir."

Sepanjang cerita, pembaca akan melihat adegan di antara keduanya. Bibi May pun seakan tidak mau segala permasalahan menumpuk.



Akhirnya May dan Peter bertemu di rumah, namun permasalahan keduanya belum selesai. Bibi May diketahui mengidap kanker dan adegan menyebutkan ia berada di Pusat Kanker Maria Wheelock.

Ditulis oleh Tom Taylor dan Juann Cabal, komik 'Friendly Neighbourhood Spider-Man #1', menghadirkan lingkungan rumah yang para tetangga merasa Spider-Man ialah tetangga terburuk. Di sisi lainnya, ada yang merasa Spider-Man ialah tetangga terbaik.



The Notebook Disesuaikan Ke Panggung Musikal

The Notebook Disesuaikan Ke Panggung Musikal

The Notebook Diadaptasi ke Panggung Musikal'The Notebook' Diadaptasi ke Panggung Musikal Foto: Dok. New Line Cinema

Jakarta - Ingat dengan film romantis 'The Notebook' yang tayang di 2004? Film yang diperankan Ryan Gosling dan Rachel McAdams itu diubahsuaikan ke panggung musikal.

Kisah cinta yang berasal dari novel roman Nicholas Sparks akan diproduksi oleh Kevin McCollum dan Kurt Deutsch. Adaptasi ke musikal juga bekerja sama dengan sang novelis yang karyanya laku di 1996 lalu.

Musisi dan penulis lagu Ingris Michaleson didapuk sebagai penulis lagu bagi pertunjukan ini. Naskahnya ditulis oleh penulis drama Bekah Brunstetter.



"Sejak hari pertama planning pembiasaan 'The Notebook', Ingrid dan Bekah telah mempunyai visi yang terperinci untuk pertunjukan ini dan di tahap awal ini terbukti sebagai kerja sama yang menarik dan membuahkan hasil," katanya dilansir dari Hollywood Reporter, Kamis (10/1/2019).

Menurut sang produser, cerita pasangan di 'The Notebook' sangat menyentuh.

"Kisah ini menyentuh aku dan terjadi di negara asal aku di North Carolina, dan alzheimer terjadi di keluarga saya," katanya.

Meski sudah mengumumkan mengenai tim inti dari pembiasaan musikal 'The Notebook' namun pihak produser belum merencanakan tanggal pertunjukannya. "Aku membayangkan banyak penonton yang akan tersentuh dengan cerita pasangan ini," pungkasnya.



Pada Hari Saat Bersamamu Melukis Di Atas Air

Pada Hari Saat Bersamamu Melukis Di Atas Air

Pada Hari Ketika Bersamamu Melukis di Atas AirIlustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom

Jakarta - Perihal cintaku padamu, rumusnya sederhana. Bila semakin erat saya semakin bahagia, sebaliknya bila engkau jauh saya resah-itu rumus pertama. Melihatmu senang saya turut bungah, bila kamu susah saya juga akan ikut merana-rumus kedua. Dan, rumus ketiga-aku ingin menjadi satu-satunya yang paling erat denganmu, kalau ada yang lain saya akan asing alasannya ialah cemburu. Sesederhana itu teorinya.

Namun, soal praktik tidak gampang untuk secara lugas memaparkan cintaku padamu. Aku ingin erat denganmu. Namun, selalu, ketika saya mendekat saya malah takut akan muncul bab dari diriku yang menunjukkan bahwa saya sama sekali tidak pantas untuk kamu pandang dengan mata indahmu.

Maka, saya hanya memandangimu dari jauh.

Tiap hari saya memperhatikanmu yang selalu pergi ke tepi danau untuk duduk di ujung dermaga kayu. Sudah usang tak ada bahtera sandar di sana, sehingga ia sekarang seolah khusus menjadi singgasanamu. Kau melukis di sana. Tanpa kanvas. Hanya dengan memainkan ujung jari yang telah tercelup sumba di atas permukaan air, akan muncul rupa-rupa garis beraneka warna di sana. Meski kemudian, dalam hitungan paling usang sepuluh menit lukisaanmu segera terhapus oleh gerakan air. Tapi, tidak mengapa alasannya ialah justru dengan itu kamu sanggup terus melukis tanpa kehabisan kanvas.

Lukisanmu tak buruk, cukup indah-kuakui itu. Namun, bagaimanapun, tetap saja, keindahan yang sebetulnya ialah dirimu, wajahmu, suaramu, senyummu. Dirimu yang berkulitkan kilau cahaya, berambut gerai air terjun, dan berpipi manis buah delima ialah keindahan yang paling sempurna. Bibir mungilmu yang merah jambu sering berganti bentuk. Kadang tersenyum, kadang manyun, kemudian tergigit ujung gigimu. Sesekali juga mendadak datar, kemudian berubah sendu.

Kedua tangan kecilmu selalu ingin kurengkuh. Tungkai kakimu bersembunyi manis di balik rok putih yang ujungnya berair tercium air danau. Kedua bola matamu seindah permata. Selalu saya ingin menatapnya, namun tak pernah kulakukan alasannya ialah takut kamu akan menatapku balik dengan cara yang tak sama dengan saya melakukannya.

Maka, saya hanya berpura-pura asyik sendiri di markas pengintaianku di bawah pohon kers, berteduh, kadang melompat-lompat untuk memetik buah-buah kecilnya. Kadang pula saya memanjat pohon itu, meraih buah kers di ujung dahan tertinggi, kemudian usil melemparkannya ke arahmu. Sejenak engkau menoleh, tapi saya malah membuang muka, berpura-pura bukan saya yang melakukannya.

Namun, sekali itu kamu memanggilku. Tidak biasanya. Aku pun mendekat sehabis beberapa detik berpura-pura bodoh. Kau ingin saya mengomentari lukisanmu, bahkan mendesakku untuk itu.

"Cepatlah, lima menit kamu diam, lukisanku akan menghilang," pintamu.

Aku memang masih melongo dikala itu, antara senang dan tegang. Entah apa yang harusnya kukatakan. Aku gagap soal seni.

Maka, dengan asal saja saya lanturkan kritikan dan masukan. Kukatakan kurang beberapa warna, terlalu banyak ukiran ragu-ragu, ada kesan takut salah, dan terlalu berhati-hati. Entah yang kukatakan itu benar atau tidak. Tidak masalah. Toh, tepat sehabis kuakhiri pidato panjangku, lukisanmu terhapus oleh anutan air. Benar atau salah, tak ada bukti untuk menuduhku.

Aku hanya berharap kamu tidak tersinggung dengan segala bualanku. Ternyata, memang tidak. Kau malah tersenyum.

"Mau melukis bersamaku?" tanyamu anggun sambil memiringkan kepala.

Tubuhku bergetar, hampir terkejang. Aku ingin menggeleng, namun kepalaku terangguk. Engkau pun menggeser posisi dudukmu, dan memindahkan mangkuk-mangkuk sumba pewarna lebih erat padaku.

Kita segera memulai. Goresan pertama kamu buat dengan warna hijau. Aku kamu minta menciptakan ukiran selanjutnya. Maka, kucelupkan ujung jariku ke dalam sumba warna merah, kemudian kuarahkan ke atas air.

Kuhentikan sementara gerak tanganku. Sempat saya berharap dengan itu kamu akan meraih tanganku untuk menuntunku menciptakan goresan. Aku ingin, meski cuma sekali, tangan kita bersentuhan. Tapi, sehabis kutunggu kamu tidak melakukannya. Maka, saya gerakkan sendiri tanganku untuk menciptakan garis lurus yang tepat sejajar dengan garis yang kamu buat. Kugambar sedekat mungkin dengan garis hijaumu, namun tak hingga bersentuhan. Tepat menyerupai diriku yang selalu ingin dengat denganmu, namun tak berani masuk lebih jauh menjamah kehidupanmu.

Tujuh menit berselang, kita pun selesai. Jangan bicara soal bagaimana sepertinya lukisan kita. Dibandingkan ketika kamu melukis sendiri, goresan-goresanku hanya mengganggu. Tidak membantu sama sekali. Padahal tadi dengan mantap kuhakimi engkau ini dan itu. Kini, sanggup kamu lihat sendiri saya hanya lelaki bermulut besar. Aku tak sanggup melukis, hanya menciptakan goresan-goresan yang mengikuti arah goresanmu, warnanya saja yang beda. Tiap kamu menciptakan garis bentuk apa pun, saya menciptakan yang serupa, sejajar, sangat rapat, namun juga sangat hati-hati biar tak hingga bersentuhan dengan garis-garismu.

Kau tampak ingin menggores lagi, namun resah hendak di mana menuangkan warna. Lukisan kita sudah memenuhi bidang empat kali satu meter persegi di atas air. Biasanya, tak pernah engkau melukis sepanjang itu.

"Menurutmu lukisan kita sudah jadi?" tanyamu.

Aku membisu mengerutkan kening, akal-akalan berpikir. Tidak, ini belum jadi.

Dalam pandanganku, lukisan itu hanya menyerupai dua lukisan yang ditumpuk jadi satu. Memang kita menggores garis demi garis bersama. Namun, tak ada persinggungan antara garisku dan garismu. Seharusnya, entah pada satu atau dua titik, garis kita bertemu, bercampur, bersinggungan. Baru sanggup disebut lukisan bersama kita.

Aku bersihkan tanganku dengan ujung lengan baju, menghilangkan sisa sumba. Aku bermaksud mengaduk air biar warna garis-garis kita berpadu. Tapi, kamu mencekal tanganku.

"Tunggu! Sebentar!"

Tangan kita bersentuhan. Tidak! Bahkan kamu pegang tanganku.

Aku menunggu menyerupai yang kamu minta. Tubuhku gemetar. Bola matamu memperhatikan lukisan kita. Mataku menatap bola matamu.

"Lihat, indah sekali!" sekali lagi kamu berseru.

Dua detik berikutnya kamu memandang ke arahku. Aku mengalihkan pandangan dari wajahmu ke arah lukisan kita.

Ya, lukisan kita sudah jadi. Aliran air yang bergerak perlahan menciptakan garis-garis kita yang awalnya hanya berdekatan jadi bersentuhan, kemudian bercampur. Terjadi secara alami, tanpa perlu saya mengaduknya.

Beberapa dikala kemudian kita sama-sama melongo memandang bagaimana anutan air menuntaskan lukisan kita. Sangat perlahan. Hingga kemudian, pelan-pelan pula lukisan kita itu terhapus, juga oleh anutan air yang sama. Air membawanya menjauh, menelan warna-warna sumba ke dalam arus.

Selama itu tangan kita masih bersentuhan. Tanganmu memegang tanganku. Entah engkau sadar atau tidak melakukannya. Atau, mungkin engkau sadar, namun akal-akalan tidak sadar.

Sedangkan, diriku sendiri berada di antara sadar dan tidak sadar. Aku hanya merasa sangat senang dikala itu. Bahagia alasannya ialah sanggup berada erat denganmu, bahkan tanganku kamu genggam. Saking bahagianya, sampai-sampai sulit kupercaya kebahagiaan seindah ini hanya tercipta alasannya ialah kedekatan saya padamu. Pundak kita bersinggungan. Aku sanggup mencium aroma rambutmu.

Setelah lukisan kita benar-benar menghilang, kamu melepas tanganku. Aku terusik, namun sadar bahwa memang sudah saatnya kita kembali pada jarak. Aku beringsut menjauh. Hanya satu jengkal, namun cukup untuk menciptakan bahu kita tak lagi bersentuhan. Aroma rambutmu menjauh.

Engkau melirik mangkuk-mangkuk sumba, mungkin ingin mengajakku melukis lagi. Mungkin. Tapi, saya menampik kemungkinan itu. Aku pamit untuk kembali ke markasku, di bawah pohon kers. Di sanalah saya akan selalu berada, untuk mencuri-curi pandang ke arahmu, sembari menjaga diriku biar selalu erat denganmu, tapi jangan hingga bersinggungan. Kalau nanti takdir menghendakinya, dengan sendirinya kita akan bersatu dengan cara yang lebih indah. Tidak perlu memaksa menyilangkan garisku dan garismu. Apalagi mengaduknya.

Di bawah pohon, saya mendongak. Kutemukan beberapa butir buah kers yang merah dan masak. Kupetik dua buah. Sebutir kumakan, sebutir yang lain saya lemparkan ke arahmu. Engkau menoleh, tapi saya akal-akalan melihat ke arah lain, akal-akalan bukan saya yang melemparnya. Lalu, kamu berpura-pura membenahi rok putihmu-aku tahu sebetulnya kamu sedang memungut buah kers yang kulempar. Dan, ketika kamu kembali memalingkan wajahmu dariku, rahasia engkau memasukkan buah kecil itu ke mulutmu.

Manis, bukan? Aku juga merasa buah kers itu benar-benar manis.

Hasan ID tinggal di Besuk Sempilan, Sukodono, Sidoarjo. Aktif di komunitas Malam Puisi Sidoarjo. Buku kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Monster atau Sesuatu yang Sejenis Dengan Itu

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan abjad detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Cara Membekukan Kenangan

Cara Membekukan Kenangan

Cara Membekukan KenanganIIustrasi: Nadia Permatasari/detikcom

Jakarta - Cara ini kuperoleh dari Anne. Sebulan lalu, untuk keperluan penelitian, saya pergi ke Amsterdam.

"O ya, mungkin kau perlu tahu, saya kini makin cemas jikalau lihat es watu begini lho," kata Anne, dalam bahasa Inggris tentu saja, sambil mengaduk kubik-kubik es kecil pada segelas cokelat yang ia pesan di kafe stasiun Amsterdam Centraal.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kucecap kopi hitam yang tidak enak. Rasanya ibarat bubuk bakaran kertas yang disiram air panas. Aku sedang berusaha menetralkan tanda-tanda perbedaan waktu. Badanku rasanya ngantuk sekali, meski ini siang ekspresi dominan gugur yang sepertinya cerah bersemangat.

Terlihat dari beling orang ramai menunggu antrean kapal feri. Mau menyeberang ke pelabuhan sana. Kata Anne, mereka akan pergi ke IJ-Hallen. Sebelum berangkat, sudah kususun kegiatan dua jam tiap hari Minggu buat ketemu Anne. Di hari lain, masalah migrasi makanan, migrasi manusia, konflik dan peleburan identitas, atau apalah yang sejenis itu, demikian mengisap waktuku ibarat lintah raksasa yang lapar.

"Sejak kau melihat burung kingfisher membeku di saluran itu?" tanyaku menegaskan ingatan.

"Kalau itu masa kecil. Ini beda. Eh, terima kasih ya, kau masih mengingat ceritaku."

"Jangan khawatir. Meski bekerjsama saya ini pengingat yang buruk. Hanya saja, jikalau ingatan itu berkesan, rasanya ibarat gambar prangko yang ditempelkan lekat-lekat ke otak. Kamu kecil bermain ice skating, kemudian melihat burung biru pemburu udang atau ikan itu membeku di bawah kakimu, di dalam danau es. Burung yang sedang berusaha menangkap ikan. Ikan kecil yang sama-sama membeku. Seperti lukisan wacana berburu. Tapi, kau merasa kasihan kemudian ketakutan, begitu kan?"

Anne malu-malu, "Bahkan hingga umur dua lima begini, setiap kali tidur dan mimpi, di dalam mimpiku ada saja burung dan ikan."

Di sisi dalam, dari beling kafe terlihat toko Albert Heijn dengan etalase dan orang yang sibuk membeli. Di depannya, jalur keluar masuk. Orang-orang lalu-lalang membawa sisa mimpi malam mereka sendiri. Mungkin ada yang samar. Ada yang masih begitu jelas. Meski rombongan itu membawa koper, beramai-ramai dari India atau China ke Belanda, mungkin tetap saja sisa mimpi itu terbawa. Mimpinya sanggup jadi dalam bahasa asalnya, wacana orang-orang asalnya, wacana makanan, burung, dan ikan-ikan di negeri asalnya.

"Omong-omong, kau pernah memimpikanku?"

"Pernah dong," jawab Anne cepat.

"Dengan ikan dan burung-burung?"

"Ha ha...ya, dengan ikan dan burung-burung," Anne tertawa, "Burung-burung yang besar dan menyenangkan."

Aku ikut tertawa. Pengunjung lain melihat sebentar, kemudian tidak peduli.

"Lalu," tanyaku, "Apa yang membuatmu cemas jikalau bukan kingfisher?"

Dia terdiam. Menunduk memainkan gelas berisi coklat dengan kubik-kubik es watu seukuran dadu.

Rambutnya yang pirang terurai melampaui bahu. Dia menggunakan sweater abu-abu. Aku gres menyadari bahwa wajahnya terlihat cepat sekali menua. Cahaya matanya agak meredup. Terakhir kali bertemu setahun tahun lalu. Ketika itu, ia tiba ke Indonesia untuk melaksanakan penelitian wacana sosiologi jalan raya selama satu tahun. Karena fokus penelitiannya di Jogja, maka sebagian besar waktunya juga dihabiskan di sana. Dia menghubungiku sehabis membaca artikelku di jurnal mengenai migrasi pecel lele dan sate madura serta psikologi pembeli dan penjualnya.

"Kupikir kau juga perlu meneliti soal sanitasi dan regulasi kaki lima itu," katanya, dalam bahasa Inggris, selama kami diskusi di kantin kampus.

"Mungkin di kesempatan lain. Waktu itu yang menarik bagiku, ya soal identitas dan masakan itu. Mereka di Jogja, tapi yang dijual, atau dibeli kuliner kawasan asalnya. Dan, itu banyak. Juga bukan hanya di Jogja kukira. Jakarta, Bandung, Surabaya. Kaprikornus saya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Apakah ketika seseorang bepergian, lidahnya tetap terikat tanah kelahiran? Tapi, jikalau soal hati dan jatuh cinta kok malah sebaliknya ya?"

Dia tertawa. Ternyata paham juga maksudnya. Aku ikut tertawa. Pengunjung kantin kampus memperhatikan, kemudian saling berbisik.

Sejak dikala itu, sekitar empat bulan, saya berubah jadi tersangka. Harus siap ketika ia mencecar. Meski bukan kesalahanku, tapi seperti saya ini yakni wakil dari kesalahan-kesalahan itu. Ketika melihat orang buang sampah dari beling kendaraan beroda empat ke jalan, ia bertanya padaku, apa tidak ada pelajaran jikalau jalan raya itu bukan tempat sampah. Juga waktu lihat sampah di pinggir sungai. Kalau naik kereta dan orang tidak antri menunggu yang turun lebih dahulu, ia juga bertanya dengan menyudutkan bangsaku.

"Padahal, jikalau sudah naik, ya santai sekali. Tidak ada kesibukan berarti atau sekadar baca buku. Kalau mau naik kok berebutan begitu. Di jalan juga, tergesa-gesa, bahkan lampu belum hijau udah jalan. Trotoar buat jalan kaki diserobot segala. Awalnya kupikir sibuk sekali ini orang-orang, eh, tahunya sudah hingga tempat ya santai main media sosial," katanya semakin panjang.

Di hari-hari pertama, saya maklum alasannya ia sedang meneliti soal jalan. Termasuk maklum dikala ia merasa absurd pada polisi. Kalau ada rombongan pawai tidak pakai helm, motor knalpot bodong bising, kok tidak berani menangkap mereka. Lama-lama, saya capek juga meladeni tudingan macam demikian. Kubawa ia ke desa di pinggiran Godean, Sleman dengan padi-padi dan ikan-ikan yang berenang-renang bebas di antara pepadian. Udara sejuk. Orang-orang yang ramah dan panjang umur.

"Wah, ini ibarat nirwana ya," katanya.

"Ya, tidak jauh dari jalan neraka kan?" kataku ketawa.

Pada dikala itu, di dangau melihat ikan-ikan berenang di antara genangan air sawah berkonsep minapadi, ia dongeng soal masa kecilnya dan ikan kingfisher yang membeku. Dia sedang bermain bersama paman dan bibinya yang tinggal di Amsterdam. Sementara, ia dan keluarga tinggal di Leiden. Dengan kereta intercity, mereka menuju tempat paman. Ketika asik meluncur di atas saluran yang membeku alasannya ekspresi dominan hirau taacuh melampaui biasanya, ia melihat kingfisher membeku dalam es, di bawah sana, di bawah kakinya.

"Kamu ingat Mark?" tanyanya balik sehabis lamunan agak panjang. Kopi rasa serbuk kertas sudah dingin.

Aku mengangguk, bosan --membosankan jikalau soal Mark tukang neliti kuman keju itu.

Dia mengalihkan pandangan ke arah pelabuhan yang kini tak berfungsi lagi.

"Dia juga membeku," katanya pelan.

Mengejutkan, kopi rasa serbuk bakaran kertas jadi menggairahkan. Aku mencecapnya. Enak sekali. Jiwaku bergembira. Melompat-lompat ibarat anak beruang ketemu ibu beruang yang membawa kuliner beruang. Aku menafsirkan maksud beku itu sebagai berhentinya kekerabatan mereka berdua, dan itu artinya ada kesempatan bagiku. Aku ingin bertanya, tapi belum ketemu kalimat yang tepat.

Tapi, kuberanikan juga, "Mmm, itu artinya?"

Anne menoleh sebentar, kemudian berpaling, "Artinya, ia dipukuli pakai palu es, sehabis gas dan larutan pencair tidak sanggup bekerja cepat."

Aku belum sanggup mengerti jikalau perlambangnya yang sejauh itu, batinku.

"Dia ibarat kingfisher. Sial betul mimpi itu. Masa kecil itu. Lebih sial aku," Anne ingin meremas gelas cokelat dengan es kubik. "Bagaimana sanggup otakku yang logis percaya pada kekerabatan mimpi ikan dan burung dengan lelaki yang kucintai. Dia menggunakan jaket ekspresi dominan dingin. Berpose ibarat pemburu binatang air. Yang ia buru botol wiski. Mengambang persis ibarat ikan kecil di hadapan kingfisher. Jarak ujung tangan kanannya pada botol, hampir sama dengan jarak paruh burung itu dengan mangsanya yang sama-sama membeku. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di jembatan saluran itu. Padahal, muncul peringatan angin kencang salju. Tolol sekali dia."

"Aku minta maaf," kataku tulus. "Aku turut berduka cita. Aku gres mengetahuinya."

"Tak masalah. Lagi pula, memang saya gres dongeng kan? Aku juga bukan tipe orang yang gampang dongeng apa saja di akun media sosial."

"Ya, saya tahu, saya menghargai setiap privasi."

"O ya, absurd juga jikalau kini saya punya pemikiran sedewasa ini. Pas kejadian, rasanya gejolak remajaku dikuras habis. Aku nangis seminggu lho. Setelah itu, waktu bangkit dari mimpi, saya tukang mimpi ya, menyedihkan. Di mimpi itu, saya menangkap ikan-ikan kemudian kubagikan di mana, kau tahu? Di kaki lima pecel lele di negaramu! Aneh kan? Burung-burung itu kulepas di jalanan macet di sana. Mimpi yang lucu ya. Sampai-sampai saya berpikir, yang hidup barangkali lebih penting untuk dipikirkan daripada yang mati. Terutama yang hidup dalam penindasan, kemiskinan, atau ketidakadilan."

"Wah, kau bijaksana sekali. Bahkan dalam mimpi," saya tetap tidak ingin kehilangan kesempatan. "Tapi, Mark kan tidak percaya Tuhan, surga, dan neraka. Dia bilang itu imajinasi kolektif, hasil revolusi kognitif sapiens. Kalau begitu, menurutmu, ada di mana entitasnya sekarang?"

"Dia membeku, di sini," kata Anne mengarahkan asisten ke dadanya.

"Duh, hanya untuk Mark ya?"

"Aku paham maksudmu," kata Anne simpatik. "Tapi, saya sudah pernah bilang. Perasaanku ke kau ibarat ke negaramu, saya menyukai, tapi bukan mencintai. Tidak apa-apa kan?"

Eko Triono menulis dongeng dan esai. Peserta residensi penulis di Belanda (2018)

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan huruf detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Lawangkala Di Selasar Sunaryo Buka Sampai April 2019

Lawangkala Di Selasar Sunaryo Buka Sampai April 2019

Lawangkala di Selasar Sunaryo Buka hingga April 2019'Lawangkala' di Selasar Sunaryo Buka hingga April 2019 Foto: Tia Agnes/ detikHOT

Jakarta - Merayakan dua dekade, Selasar Sunaryo Art Space menggelar ekspo 'Lawangkala' yang bentuknya terinspirasi dari perangkap ikan. Perupa Sunaryo pun membuatnya dari material bambu.

'Lawangkala' seharusnya tutup selesai Desember lalu, namun pihak Selasar Sunaryo Art Space memperpanjang hingga April mendatang. Informasi tersebut diungkap lewat akun Instagram Selasar Sunaryo Art Space.

"Display instalasi bambu Lawangkala diperpanjang hingga April 2019. Sudahkah anda mengunjunginya?" tulis @selasarsunaryo ibarat dikutip detikHOT.



'Lawangkala' yang berarti pintu waktu dianggap Sunaryo sebagai sebuah perjalanan. Sebagai insan tak sanggup kembali ke masa kemudian dan harus berjalan ke arah depan.

Lewat material bambu dan kertas, Sunaryo menyimbolkan sebagai sesuatu yang rentan dan gampang hancur.

"Ini menggambarkan kefanaan. Sebenarnya ingin merefleksikan antara yang awet dan fana terutama dalam hal realitas sejarah yang punya keniscayaan yang selalu berubah," ujar peraih penghargaan di Akademi Jakarta saat diwawancarai detikHOT, belum usang ini.

Para pengunjung yang menyambangi Selasar Sunaryo sanggup mencicipi sensasi perjalanan 'Lawangkala'. Ketika memasukinya ada labirin kemudian ada cermin yang merefleksikan hal-hal yang terwujud. Semakin ke dalam pengunjung akan mendapati anutan air yang sunyi dsan visual ikan.

Karya 'Lawangkala' seakan menciptakan pengunjung seakan terperangkap dan menelisik lebih dalam arti perjalanan bagi Sunaryo.



Amsterdam Blues

Amsterdam Blues

Amsterdam BluesIlustrasi: Nadia Permatasari/detikcom

Jakarta - Lebih sepuluh kali saya melihat Inneke Schenken di White Satin Bar, terutama di program The Moody Blues Night (khusus anggota) --padahal saya gres sembilan bulan jadi anggota-- lantaran itu ia niscaya anggota yang lebih senior. Meski begitu gres di Kamis sore itu, di pelataran kantor ketika bergegas ke halte bus kota memburu bus ke suburd di timur Amsterdam, saya memberanikan diri menyapa dengan anggukan serta senyuman bimbang. Tapi, Inneke Schenken hanya menatap dingin. "Maaf, rasanya..." kataku tidak lampias, meski --setelah tersenyum-- Inneke Schenken sigap menyebutkan nomor anggotanya. Nomor yang sangat dini dibandingkan punyaku.

"Selamat bergabung di club," ungkapnya sambil melambaikan tangan dan bergegas ke halte untuk mengejar bus yang senantiasa setia berhenti --ada atau tidak ada si calon penumpang. Aku menelan ludah. Mengawasi berjalan kaku dengan langkah tegas dan tanpa gerakan di pinggul dan pantat, sebelum membelok di gang --jalan pintas-- yang melintasi blok serta tiba di jejalur bus kota itu. Mungkin ia bisa mengejar kesempatan terkini meskipun naik di urutan akhir. Tapi, sebelum berbelok ia berbalik, tersenyum sambil mengangkat tangan kiri dan menggerakkan jemari melempar salam sederhana. Aku menarik napas lega. Karena di kantor ia bukan tandingan --aku hanya si petugas cleaning service kontrak-- tapi di tengah musik blues rasanya kami setara, sama-sama si penikmat --dan penggila-- meski motifnya mungkin berbeda.

Empatinya pada lolongan jiwani itu tidak akan sebanding dengan rujukan derita hidup sebagai si yang dikucilkan di Amsterdam ini, dengan seluruh anggota keluarga yang setuju untuk melupakan mengurung saya nun di masa kemudian --meskipun jarak fisik hanya 101 km. Mengisolasi dalam perasaan sepi si diabaikan dalam sama sekali tidak ada arahan pengampunan --karena itu pintu pulang dan kembali yang ada di masa kemudian selalu membayang di pelupuk, dalam jaga dan (terutama) dalam terlelap. Kegelisahan sehari-hari yang coba dinetralisasi dengan suntuk bekerja. Karenanya saya selalu tidak sabar menunggu hari Jumat tiba, ketika jiwa bisa lebur tranced di antara titik postulat derapiah drum serta bass yang membentangkan atmosfer ngungun keyboard --semesta untuk mengempati manifesto murung. Lolongan. Koor yang mengukuhkan pengap dari si tidak lampiasnya ungkapan menyayangi si Justin Hayward.

Semua perihal ihwal yang tak kuasa untuk dilisankan. Senantiasa. Selalu. "Mari membuka derita malam," gumanku, menelan omongannya Tan Tirtawinata, "Meski hanya curhat kepada diri sendiri..."

***

Aku bertemu Tan Tirtawinata di kafe --awalnya saya tidak mengetahui namanya. Saat itu malam hangat di awal isu terkini semi, dan hujan mendadak turun, sehingga saya berlari ke satu-satunya tempat berteduh yang memungkinkan. Bar di basemen yang ditandai neonsign serta lurung yang kelam di bawah alingan kubah yang menciptakan lorong ibarat tidak berpintu --tapi jadi kawasan publik ketika di bawah identitas kafe itu tertera tanda merah open. Menekah turun, melolos di pintu dorong yang membuka ke luar dan ke dalam, mendekati kafe dan meminta sebotol bir. Membayar, kontan, lantas pindah ke meja lantaran begitu banyak yang berdesakan di sana. Minta izin pada yang asyik dengan rokok dan setengah botol bir sisa. Duduk. Meneguk bir. Meletakkannya buat menyulut sebatang rokok--lama kemudian gres saya tahu nama kafe itu, The Hope, yang merupakan satu dari sekian kafe di kota yang (berizin) bebas rokok, bahkan drug.

Sekaligus kafe bagi pencari kerja parttimer. Di sebuah papan akrab pintu masuk, selalu dilekatkan pengumuman lowongan kerja, ke mana para pengunjung kafe tiba menilik dan mempertimbangkan sederet tetek bengek pekerjaan enteng, semacam membetulkan pipa ledeng, menyiangi rumput taman, atau perbaikan jaringan listrik --kemudian menyimpan catatan nomor telepon yang harus dihubungi. Karena itu semenjak sore selalu tiba orang-orang yang membutuhkan kerja ringan dalam tempo pendek dengan bayaran lumayan. Mengambil iklan lowongan itu, dan mengambil sebotol bir sambil mengobrol hingga kantuk tiba. Meski banyak yang melulu tiba tidak untuk mengecek pekerjaan dan melulu menghabiskan waktu di bar, menyempurnakan lelah, serta pulang dengan kantuk berat. Meski ada yang tiba buat bernostalgia, merokok, dan minum dalam mapan kerja tetap --rindu momen galau mencari kerja serabutan.

"Anda senior?"

"Maaf....?"

"Saya belum pernah melihatmu, dan kau tidak begitu peduli dengan lowongan kerja yang ada di papan harapan?"

"Papan harapan? Apa itu...?"

"Kamu benar-benar tersesat. Itu papan pengumuman lowongan kerja...."

"Di sini disebut begitu? Di mana itu?"

"Di akrab pintu. Kamu terlambat, semuanya sudah diambil orang," katanya. Aku bangun dan mendekatinya. Memeriksa iklan personal lowongan kerja serabutan yang semuanya telah dicoret. Ada bolpen tergantung diikat benang, di akrab lembaran nota setengah telapak tangan untuk diambil sesudah alamat serta nomor telepon si pemberi lowongan kerja itu dicatat oleh si pencari kerja. Aku balik. Menghenyak di depan Tan Tirtawinata, meraih bir dan meneguknya, kemudian berkata, "Itu tempatnya ya? Begitu caranya ya...?" Tan Tirtawinata tersenyum --sebuah keriut di rona cabar topeng wajah yang sia-sia melabi jiwa tertekan di balik lopak mata yang nyaris tertutup selaput tebal Asia Timur. Mengulurkan tangan dan kami berkenalan.

***

Aku pindah ke kamar Tan Tirtawinata demi menghemat biaya hidup --tapi kami makan dengan uang sendiri. Sesekali kami saling traktir, meski itu hanya si setangkup hotdog dan sebotol softdrink. Lain kali keluyuran untuk mencari kerja serabutan, dan pulang untuk tidur dengan perut kosong. "Kau tahu apa makna nirwana sesungguhnya," kata Tan Tirtawinata. Aku tersenyum --sudah usang Tuhan terlupa, lantaran terpikir jikalau doaku sering diabaikan-Nya. Tan Tirtawinata tersenyum --tranced menenggelamkan biji matanya ke dalam lopak bertingkap pelupuk tebal. "Itu pembaringan roti isi daging asap dengan bantal softdrink, sehingga dikala pergi tidur kita tidak dirisaukan oleh lapar, dan ketika terjaga cuma perlu WC," katanya.

Aku tersenyum. Itu sorga sosialis, utopia si semi menganggur yang tidak terkait dengan nash agama. Mungkin lantaran di selama tujuh tahun hidup bersama kami tidak pernah punya persediaan makan lebih, bahkan tanpa makan malam dan sisa duit untuk makan pagi --sehingga ketika bangun pagi itu kami benar-benar hanya berkumur, serta meneguk air ledeng Amsterdam. Pengganjal lambung, sekaligus cara sederhana buat mengencerkan asam lambung dikala cairan pencerna itu tidak menemukan apa-apa selain selaput lambung yang dengan buas digerogotinya. Itu. Dan, karenanya, kami pergi ke dapur umum, untuk sekedar segelas kopi serta semangkuk sop dan roti. Tidak peduli akan rasa dan melulu ada yang diumpankan untuk mengentalkan cairan pencerna --si asam lambung. Kemudian menunggu hari menjadi sore dan bergegas mencari iklan lowongan kerja part time ringan tapi ada duitnya.

"Untung saya tidak tinggal di Surabaya," kata Tan Tirtawinata --getir. Aku membisu saja. Apa itu Surabaya? Apa hebatnya sebuah kota nun di timur jauh sana? Atau, apa ada sesuatu yang menciptakan Tan Tirtawinata terkukung dalam masa kemudian menyenangkan yang disimbolkannya dengan ikon Surabaya? Dan, ketika ia memutuskan untuk pulang ke Surabaya, gres Tan Tirtawinata bilang bahwa nama legalnya itu Setiana. Juga awal dari pengucilan diri sepuluh tahun tinggal sendiri di Belanda, yang disebabkan protes pada rencana kapitalistik orangtuanya: segera menikahkannya dengan gadis keluarga Tanaya --dan sekaligus merger dari dua perjuangan keluarga. Dan, ketika ia tetap bersikeras menolak, maka semua hak waris sebagai anggota keluarga Tirtawinata dicabut. Ihwal yang dilawan dengan segera lulus MBA di USA, mengirim ijazahnya pulang, serta ia sendiri jadi si imigran gelap di Amsterdam.

Dan, katanya, dengan badan menggigil sakit, "Di dua tahun terakhir ini mereka minta semoga saya pulang untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi saya bertahan sebelum akhirnya, tadi, menyerah. Jo, maukah kau mengunjungi saya di Surabaya...?"

***

AKU mengantar ke bandara--meski tidak perlu diantar lantaran dijemput adiknya yang tidur di hotel bintang lima. Aku melihatnya kalah dikala menaiki tangga pesawat, meski semalam mengajak menginap di suite, dengan di pagi hari pesan sarapan aneka hidangan yang tak terbayangkan. "Ini hampir nirwana impianku, Jo," katanya sambil meraih apa yang bisa diraih dan memamahnya dalam terbaring di ranjang --aku tak membalas, serta sama sekali tak bisa menikmati kemewahan berlimpah dari kelas hotel diamond. Apa itu lantaran terbiasa hidup subsistensi dengan makanan nan seadanya? Apa lantaran terkondisi selalu sengaja menekan naluri ingin dipuaskan dari si lapar, sehingga uang makan bisa diperpanjang untuk esok dan esoknya lagi --peduli ada kerja dengan upah lumayan? Aku merasa disaput blues. Aku membungkam.

Dan, di ruang tunggu --dalam pembayanganku: ia itu si buronan yang tertangkap, dan sekarang sedang dalam prosesi ekstradisi ke Indonesia-- berkali saya dirangkulnya kuat.

Dan, sebelum beranjak ke pesawat ia membisikkan kalimat sederhana, yang gaungnya awet hingga sekarang --sebuah lolongan blues, "Aku akan masuk neraka yang lebih getir dari isu terkini cuek tanpa pekerjaan di Amsterdam ini." Dan, saya cuma menelan ludah. Mungkin menganggur di isu terkini cuek lebih mengerikan bagi si imigran gelap ibarat Tan Tirtawinata --pada tujuh tahun terakhir agak tidak mengecewakan lantaran saya kuasa menyelinap ke Dapur Dinas Sosial untuk semangkuk sop dan roti pengganjal lambung. Sebelum itu apa yang bisa dikerjakannya? Tidur dengan harapan kasur menjadi roti, bantal jadi ham, dan selimut jadi bir?

Dan, kengungunannya itu diwariskan dalam CD The Moody Blues, di dalam ujud lagu Nights in White Satin. Yang selalu mengingatkanku kepada suasana lelah bekerja dan ngungun kehilangan kepastian esok punya kerja parttime apa --yang selalu diputar berulang dan refleks diejanya dengan berguman. Kedegilan yang awalnya menciptakan saya sebel tapi pelan-pelan nuansa (lirih) secara umum dikuasai frustasi itu, yang kian menguat itu menciptakan tranced --ketika kami serentak berangkulan di ranjang yang membeku dalam remang tanpa tungku penghangat. Dan, kami berguman ibarat flute yang tidak kuasa meneriakkan apa-apa --mengeletarkan gigil saja. Mencoba buat melawan dengan daya tahan fisik, alasannya tidak ada duit untuk membeli penghangat yang lebih keras dari kopi atau sekedar air putih hangat. "Sesekali kau harus mencoba wedhang jahe, minuman hangat ala Jawa, Jo," katanya. Apa lagi itu?

Dan, bila sesekali ada duit maka kami lebih menentukan makan yang bergizi semoga di keesokan hari bisa lebih gigih bekerja dan punya saldo buat hari yang berikutnya. Bir terkadang jadi kemewahan borjuasi--terlebih wine. Kami telah dipaksa terdidik hidup berhemat, lantaran selalu esok dan esoknya lagi mungkin tak ada kerja part time, dan punya sedikit cadangan uang sendiri --selalu siaga menolong diri sendiri dengan apa yang ada dikala ini. Dan, malam menjadi momen menghibur diri dengan mengeluh pada diri sendiri. "Siapa yang berpengaruh untuk tidak membuka sedih malam hari, meski itu hanya pada diri sendiri," desah Tan Tirtawinata --selalu. Dulu. Dan, sekarang (karenanya) saya jadi si penyusur setiap kafe di Amsterdam, setiap malam mencari semesta blues serta blues music live --kemudian tercangkul di White Satin Bar, di program The Moody Blues Night.

***

Mungkin tujuh kali --dalam rentang lima tahun-- Tan Tirtawinata mengunjungi Amstredam, memberi cek tanpa batas nominal. "Silakan diisi sendiri," katanya, atas nama Johan Schoon, dan dengan sungguh-sungguh berkali-kali meminta semoga saya ke Indonesia. Berkunjung. Atau, menetap dan memegang posisi di perusahaan keluarga di Surabaya. "Sekarang saya sudah menikah dan mau punya anak. Meski tak dengan si gadis pertama yang ditawarkan dulu itu, saya tetap menikah dengan gadis Tanaya," katanya, "Aku menikah dengan anak rekanan bisnis ayah, hingga bisa total mengelola kedua perusahaan keluarga di satu tangan. Datanglah. Aku sudah bilang pada mereka, jikalau kau yang menemani petualangan lapar isu terkini cuek di Amsterdam, karenanya kau berhak atas nirwana di kamar tidur, dikala terjaga pribadi sarapan."

Aku tak membalas. Apa harus ke Indonesia dan jadi si kepala cleaning service? Atau, hanya kepala keamanan, yang kuasa memerintah orang profesional pengamanan Indonesia ("Jawa, arek Surabaya," katanya)? Apa bedanya? Aku tersenyum. Sore itu, ibarat biasa: menjelang larut saya beranjak dari kantor, bersepeda di seperempat jam, masuk subway dan mengambil kereta ke selatan yang sudah lengang, turun di Zaken, dan bersepeda lagi selama seperempat jam --total satu setengah jam. Santai lantaran saya tak harus bangun sangat pagi dan bergegas pergi supaya tidak terlambat masuk kantor. Aku masuk sore menjelang jam kerja usai, sesuai kontrak kerja, sekaligus tak harus bergegas pulang semoga bisa istirahat lebih dini, supaya terbangun di dini hari.

Rutin. Kecuali di hari Jumat, ketika saya pergi bekerja dengan beransel, ke mana seluruh pakaian kerja dilipat masuk dan pakaian kebesaran penikmat blues dikenakan --meski properti yang terutama itu: raut wajah yang usang dicelup dengan saputan duka, karenanya saya ibarat si roh blues kesasar di Amsterdam. Berlangsung hingga dini hari dan saya bisa ngambil kereta yang pertama ke selatan. Untuk pulang dengan bersepeda dan terlelap dalam mimpi --tidur di atas kasur roti. Di besok Jumaat malam, barangkali, sambil minum bir saya bisa bercakap dengan Inneke Schenken --tentang si lowongan kerja sebagai manajer produksi atau apa di Indonesia, yang disediakan untuk si aku, dan yang bisa (juga) diperolehnya asal ia mau formal menikah denganku. Suatu kontrak sosial yang harus diekspresikan secara sosial, meski sesudah itu kami (masing-masing) punya kehidupan pribadi yang dijamin privasinya. Tapi, mungkinkah itu?

Dan, nanti di setengah tranced, saya akan bilang, "Kita akan menghirup atmosfer surga tropical, yang di meja di sisi tempat tidur tersedia aneka buah-buahan, kue-kue etnik, serta bir atau wine. Di dapur ada kulkas yang penuh berisi materi makanan yang siap dimasak secara Jawani oleh si pelayan pribumi, ibarat yang selalu tertulis di teks roman kolonial setengah era lampau. Semua sanggup diraih dengan akal-akalan menjadi istriku, serta senantiasa siap sedia dicumbu pura-pura. Dengan --tentu saja-- hak bebas ambil selingan seksual sejati di luar rutin harian lakon komedi si suami-istri, sinetron demi kelangsungan pekerjaan serta keutuhan sorga tropical Tan Tirtawinata. Kenapa begitu? Karena keluarga si Tan Tirtawinata kuno, tradisional dan konvensional."

***

Sering terpikir saya pergi ke Indonesia, ke Surabaya itu, dengan si sembarang wanita profesional, yang didapat dari serius memasang iklan lowongan "kerja" di kafe lowongan kerja ibarat The Hope itu, atau malah formal legal di koran. Agar bisa tiba ke Indonesia, ke Surabaya itu, dengan didampingi seorang istri, yang mempunyai kemampuan profesional romantisme perkawinan ideal. Kaprikornus si yang dibawa suami ke Surabaya, yang diperkenalkan sebagai istri kawan kerja Tan Tirtawinata di Amsterdam di pergaulan sosial Tan Tirtawinata. Sehingga secara rahasia kami bebas menyelinap, mengenangkan malam-malam isu terkini cuek di Amstredam, yang dulu selalu dilakoni hanya dengan berpelukan dalam selimut, dengan gumam lirih mengikuti lenguh lagu Nights in White Satin, jadi tranced dalam pukauan flute yang menebar gigil hingga
syaraf. Membuat semesta lebur dalam gema blues.

Hal nostalgik --sesuatu yang membuatku resah, meski sesekali tuntas ketika Tan Tirtawinata belakang layar mampir dari kunjungan dinas atau liburan-- yang tak sekadar kuasa diaplikasikan sesekali dalam pertemuan rahasia jikalau Tan Tirtawinata berbisnis ke Belanda. Kubah yang sangat riil --dibandingkan nirwana setengah utopis dari ranjang roti, bantal ham, dan selimut bir itu-- yang selalu diciptakan di isu terkini cuek tanpa si lentik cahaya ada kerja parttime. Nun --bahkan ketika tidak di isu terkini dingin, tapi kami tercangkul dalam tanpa pekerjaan, bahkan ketika kami ada punya saldo dan kepastian akan ada kerja parttime di esok hari. Sebuah percintaan yang lebih merupakan sebuah manifestasi kesalingmengertian, salingmelindungi sesudah bertahun melulu hidup terkelucak dalam kesendirian, dan kebersamaan yang tetap mengelucak. Keluluhan --dan untuk itulah Tan Tirtawinta meminta semoga saya tiba ke Surabaya.

Tentu saja --suka atau tidak suka-- saya harus tiba dengan akting lelaki normal yang mempunyai istri, si wanita yang juga harus normal atau bisa memerankan istri normal --mau disentuh, bereaksi panas, dan rela hamil serta melahirkan anak. Kenapa? Sebab keluarga Tan Tirtawinta itu keluarga kuno, tradisional dan konvensional--amat mengagungkan etika, kesantunan, dan kepantasan identitas dikala bergaul. "Ya..." kata Tan Tanuwinata, sekali waktu di Schiphol, "Dengan begitu kau bisa minta apa saja dari mereka, semuanya akan dikabulkan selama kau tidak mempermalukan mereka." Maksudnya, dengan referensi dan selera seksual yang normal serta tradisional --suami-istri dan ada beberapa anak. Dan, dikala itu saya cuma menarik napas, pelan menelan ludah dan melengos memperhatikan jala-jala pengukur kecepatan angin di kejauhan --berjuntai tak diserut angin.

"Aku pun, kini, harus segera punya anak. Lebih anggun lagi bila lelaki," kata Tan Tirtawinata dikala itu --setengah berbisik. Ya! Aku memejam, dan tampaknya terdengar erangan Justin Hayward, dan ibarat terdengar semua orang melolong memperpekat sedih di antara desing pesawat yang mendarat serta terbang. Nun. Tapi, apakah saya tak bisa berbahagia dengan Tan Tirtawinata ibarat si Tan Tirtawinata bebas berbahagia denganku, sambil kami masing-masing memperagakan kamuflase lucu: si punya istri, punya anak, dan sesekali berselingkuh dengan sembarangan wanita --meski yang hakiki bagi kami ialah intimitas gigil dalam erangan Nights in White Satin.

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan abjad detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Aku Dan Sepatu

Aku Dan Sepatu

Aku dan SepatuIlustrasi: Denny Pratama/detikcom

Jakarta - Waktu kecil dulu mimpi terbesarku punya banyak sepatu. Ayahku memang tukang sepatu, tapi bukan berarti saya sanggup punya sepatu gres setiap bulan. Ya, maklum saja alasannya penghasilan ayah diukur dari berapa banyak sol sepatu yang tiba untuk dibetulkan.

Tiap kali melihat tumpukan sol sepatu yang tak surut-surut, pikiran luguku melumatnya jadi imajinasi punya sepatu baru. Yeah, sebetulnya tak tega juga saya lumat semua sol sepatu itu dalam imajinasiku. Bukan hanya alasannya alot, tapi juga kasihan pada ibu. Ia menggantungkan tebalnya asap kompor pada setiap helai sol sepatu bertukar jadi uang.

Sesekali kucuri juga kesempatan menggunakan sepatu-sepatu yang menunggu giliran untuk dibetulkan ayah. Ah, ini saja sudah bikin saya bahagia. Tulang kaki kerempeng dengan ujung-ujung kukuku yang hitam menyerupai diberi jubah raja ketika menelusup mantap ke dalamnya. Serentak kedua kakiku melangkah jantan. Tinggi badanku pun ikut bertambah berkat sol sepatu baru. Cukup dengan alas sol sepatu tebal, maka kamu sanggup memandang dunia dari derajat ketinggian yang berbeda.

Oh, ini to yang dinamakan rasa percaya diri? Sepatu memang benda ajaib, dan ayah mewujudkan keajaiban itu untuk semua orang di kaki mereka.

"Kalau besar nanti, jangan jadi menyerupai Ayahmu ini yang tergantung pada alas kaki orang untuk memberi makan anak dan isterinya."

Aku tak menjawab. Ayah tak tahu betapa bangganya saya pada pekerjaannya. Kalau beliau tak jadi tukang sepatu, mana sanggup telapak kakiku menjajal bermacam-macam sepatu tiap hari? Harusnya ayah sadar jikalau ternyata semudah itu beliau telah membahagiakan anaknya.

***

Saat ayah tahu saya dipanggil wawancara kerja, ia semangat mengganti sol sepatuku. "Ini sol terkuat dan termahal! Semoga kakimu jadi ringan melangkah serta menciptakan kariermu melesat cepat, Nurdin."

Sol sepatu mahal memang beda! Memasuki gedung berkaca yang menjulang tinggi, kaki kerempengku melangkah tanpa segan. Mereka nikmati sekali melangkah glamor di atas ubin marmer. Aku tak peduli dengan trik-trik sukses wawancara, yang ada mataku malah terbuai memandangi kulit sepatu yang berkilatan. Ibu menyemirnya khusus untukku.

Wawancara sukses! Pewawancara eksklusif bertanya kapan saya sanggup mulai kerja. "Secepatnya, Pak! Besok pun saya siap!"

Ayah dan ibu senang luar biasa. Kami merayakannya dengan makan pecel ayam. Pecel ayam memang bikin kenyang, tapi rasa bersyukurku justru menyeruak gempita ketika menyemir sepatu.

Itulah jimat yang bikin karierku berderap mantap. Perlahan pekerjaanku mulai sanggup menghidupi ayah dan ibu dengan layak. Sudah waktunya kuwujudkan imajinasi masa kecil. Punya sepatu yang banyak! Tanpa ragu kuborong berdus-dus sepatu. Di rumah kutaruh mereka di rak beling khusus, dan mataku tak akan lelah memandanginya berjam-jam.

"Mau kamu apakan semua sepatu ini, Nurdin?" tanya Ayah satu kali.

"Sepatu-sepatu ini mimpiku, Ayah."

"Mimpimu?"

"Iya, dari kecil saya selalu ingin punya sepatu yang banyak!"

Ayah tak merespons, tapi air mukanya penuh tanda tanya. Dan, sejak itu baik ayah maupun ibu seolah kehilangan bunyi tiap kali melihatku pulang dengan tentengan kardus-kardus sepatu baru.

Seperti dua hari lalu, ketika semua mal kompak menggelar midnight sale. Buatku ini ialah tunjangan alam semesta untuk mewujudkan imajinasi punya banyak sepatu. Semua barang diobral setengah harga, termasuk sepatu. Meski saya harus sikut-sikutan dengan tentangan yang berjubel, tapi perjuangan tak pernah mengkhianati hasil. Empat pasang sepatu berhasil kubungkus.

Sepatu-sepatu itu naik kelas begitu ada di tanganku, dari etalase mal obralan jadi pajangan koleksi. Tak hanya naik derajat, suhu ruangannya pun kuatur biar tak rusak apalagi berbau.

Kutaruh dus-dus sepatu gres itu di jok belakang mobil. Cepat-cepat kugelindingkan ban kendaraan beroda empat di atas aspal, tak sabaran hingga ke rumah. Meski harus berhadapan dengan lampu kemudian lintas yang jarang hijau, wajahku terus tersenyum. Sepatu-sepatu gres itu kolam suntikan botoks yang menciptakan garis senyumku tersungging tanpa diperintah.

Roda-roda mobilku semakin memasuki aspal yang menuju rumah. Hingga sampailah di aspal yang dilintasi rel. Tak jauh dari rel itu ada sebuah rumah bedeng yang dulunya disesaki imajinasi anak kecil yang ingin punya banyak sepatu.

Ada perasaan puas tiap kali kulewati rel kereta ini dengan dus-dus sepatu baru. Aku menyerupai menampar sangar gerbong-gerbong kereta yang bising lalu-lalang. Karena waktu kecil dulu merekalah yang dengan sombong membuyarkan imajinasiku, hingga yang tersisa hanya remahan-remahan cita-cita yang kusimpan rapat-rapat.

Meski saya menyimpan dendam pada bunyi bising gerbong kereta, tapi saya selalu menghormati rel kereta itu. Aku tak mau mendekatinya apalagi melewati palang pembatasnya. Ini bukan alasannya saya berlagak mentaati peraturan tapi saya tak sudi gerbong-gerbong bising itu kembali merampas khayalanku yang sedang menumpuk jadi kenyataan di jok belakangan mobil.

Tapi, malam itu entah kenapa adrenalinku berlaku asing. Kubiarkan moncong kendaraan beroda empat melewati palang pembatas kereta, dan mesinnya pun ikut mati. Aku panik. Sol sepatuku menekan penuh kopling, dan tangan memutar kunci kendaraan beroda empat sambil berharap ini semua sanggup menciptakan mesin kendaraan beroda empat kembali menyala. Sial, mobilku justru tak bernyali.

Di luar orang menyerupai berteriak-teriak. Tak sanggup ku dengar terperinci bunyi mereka alasannya dentang tanda kereta lewat bercampur aduk dengan lengkingan detak jantungku.
Instingku memberi perintah segera keluar, dan biarkan tumpukan dus sepatu itu dihardik gerbong-gerbong kereta yang memburu. Langsung kuputar tubuh ke kanan sambil coba buka pintu mobil, dan sedetik itu juga lampu kereta menyalak di depanku.

Cepat sekali. Secepat mata yang menutup gelap, dan kesadaranku pun lelap. Gelap, warna yang sama dengan tumpukkan sol sepatu ayah yang dulu memancingku berimajinasi punya sepatu banyak.

Otakku termangu entah berapa usang hingga kemudian kelopak mataku tergerak untuk membuka. Berkas cahaya samar-sama mulai menusuk mata tapi kelopak mataku seolah tak takut, ia malah terus saja melebar.

Kudapati diri tengah berbaring ditutupi selimut biru yang dihujani label rumah sakit. Di tangan kananku menjuntai selang infus yang cairannya menetes lambat. Lalu di jari telunjuk kiriku mengapit sebuah alat yang menghasilkan dentangan irama sesuai detak jantungku.

Saat bibirku coba membuka suara, indera pendengaran menangkap bunyi ayah dan ibu. Mata mereka berbinar lega melihat saya siuman. "Alhamdulillah, Nurdin kamu selamat," ucap Ibu terbata-bata. Ayah pun mengangguk, dan mengusap-usap punggung tangan kiriku. Ia tak berkat apa-apa tapi sudut kedua matanya menumpuk air mata.

Otak memberi perintah untuk melontarkan kalimat pertamaku. "Sepatu-sepatuku?"

Bukannya menjawab, Ibu malah menjauh. Dia terduduk lemas di sofa abu-abu. Jemarinya meremas berpengaruh kain jilbabnya yang menjuntai.

"Sepatu-sepatumu aman. Semua ada di rumah. Sudah jangan dipikirkan yang penting kamu sehat." Nada bicara ayah diatur untuk tetap tenang.

"Bukan, maksudku sepatu-sepatuku yang di kendaraan beroda empat bagaimana?"

Ibu mengigit jarinya seolah tengah menahan diri dari rasa sakit. Aku pun memelototi ayah menuntut jawaban.

"Astagfirullah, Nurdin kamu gres saja selamat dari ukiran kereta tapi yang kamu tanya justru sepatu barumu." Bicara ayah sengit, dan sebulir air mata menetes di pipi kirinya.

Kedua mataku mengikuti ke mana bulir air mata itu terjun bebas. Tepat ketika ia menyentuh punggung tangan kiriku, mataku ikut menangkap selimut biru yang menutupi kakiku. Ah, iya bagaimana dengan kakiku? Kucoba gerakkan tubuh biar pinggangku ikut bergerak dan semoga menarik hati kedua kakiku untuk bereaksi. Tapi, tak terasa ada yang merespons di bawah sana.

Otakku kembali menyimpulkan pertanyaan. Mengapa selimutnya menyerupai menutupi permukaan yang rata tanpa ada undakan kaki di bawahnya? Pertanyaan ini menciptakan jantungku berderap persis pacuan kuda. Keringatku pun ikut-ikutan membujur tak karuan. Otakku mulai menyimpulkan banyak hal dan semuanya negatif!

Kupanggil ingatan terakhir. Aku duduk di belakangan kemudi ketika mobilku tiba-tiba mati persis di atas rel kereta. Aku juga ingat menangkap banyak suara. Otak memberi perintah untuk keluar, dan membiarkan tumpukan dus sepatu itu dicuri gerbong-gerbong yang sombong menggonggong. Sedetik kemudian gerbong-gerbong sombong itu menghantam jendela mobilku. Lalu hitam dan gelap...baru...baru saya sadar ada di daerah ini. Merangkum semua itu menciptakan tangan kananku menarik selimut dengan liar tanpa menunggu perintah.

Terkuak sudah. Kedua kakiku hilang. Yang tersisa hanya perban yang membebat tumpul. Gerbong-gerbong bising biadab. Mengapa mereka begitu membenciku. Dulu mereka menyalak imajinasiku di rumah petak ayah dan ibu. Kini mereka tak hanya melabrak tumpukan dus sepatu baruku tapi juga meremukkan kedua kakiku.

Aku memang tak seberuntung ayah, si tukang sol sepatu yang kerjanya memperbaiki sepatu rusak tanpa harus berimajinasi mempunyai semuanya!
Priska Siagian novelnya yang telah terbit berjudul Keterasingan (Grasindo, 2014)

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diadaptasi dengan huruf detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Tokyo Ghoul Jadi Manga Terpopuler Ke-6 Di Amerika

Tokyo Ghoul Jadi Manga Terpopuler Ke-6 Di Amerika

Tokyo Ghoul Makara Manga Terpopuler ke-6 di Amerika'Tokyo Ghoul' Makara Manga Terpopuler ke-6 di Amerika Foto: Istimewa
Jakarta - Serial manga 'Tokyo Ghoul' yang terbit di Majalah Manga Seinen Shueisha Weekly Young Jump menuai pretasi di Amerika Serikat. Komik yang terbit mulai 2001 itu menempati posisi keenam.

Menurut survei NPD BookScan pada 2017, setiap bulannya komik-komik Jepang yang terbit di Amerika disurvei. Komik karangan Ishida itu masuk dalam 20 besar.

Selain manga 'Tokyo Ghoul', ada manga 'My Hero Academia', 'The Legend of Zelda', 'One-Punch Man', dan 'Death Note'. Komik tersebut mendapat penggemar yang banyak di benua Amerika.



'Tokyo Ghoul' menceritakan mengenai Ken Kaneki yang tidak sanggup bertahan hidup sehabis pertemuan mematikan dengan Rize Kamishiro seorang wanita yang diturunkan menjadi ghoul. 'Ghoul' ialah makhluk seolah-olah insan yang memburu dan memakan daging manusia.

Ketika sempat mengalami kritis dan dibawa ke rumah sakit, Kaneki menemukan dirinya menjadi setengah ghoul dan harus mengonsumsi daging insan untuk bertahan hidup. Sekuel dari 'Tokyo Ghoul' yang berjudul 'Jack' mulai terbit pada 2014.

Peringkat yang diberikan BookScan mewakili penjualan di Barnes & Noble dan rantai toko buku lainnya. Serta pembelian online namun bukan penjualan yang ada di toko buku Amazon dan Walmart.com.

[Gambas:Video 20detik]