Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Memburu Jaeni

Memburu Jaeni

Memburu JaeniIlustrasi: Nadia Permatasari/detikcom

Jakarta - Kami berlarian mencari sepeda ke rumah masing-masing. Kami tidak sempat menjawab anak-istri kami yang bertanya setengah berteriak, "Mau ke mana, Pak?" Kami lompat ke sadel, menggenjot pedal yang sebagian utuh dan sebagian telah lepas sehingga sepeda itu seakan melompat ke udara serasa seekor kuda pacuan.

Di jalan Dukuh Dawuan ke arah selatan sepeda kami berhamburan. Petang yang mulai turun tidak menghambat kami untuk memacu sepeda kami menuju Kali Brantas. Sepeda kami bersilangan sebelum menemui jalan besar. Roda-roda sepeda melesak ke dalam jalanan berdebu. Kami tidak peduli jalanan berdebu dan lengket di wajah kami. Kemarau sedang di puncak musimnya sehingga jikalau siang hari di jalan kami berhamburan terlihat debu mengepul.

"Segera kita ke tambangan Kali Brantas! Sebelum Jaeni lenyap digondol setan!" teriak Kang Muji di tikungan Kali Apak. Tangan kanannya bergerak-gerak pertanda kami harus segera tiba. Sepedanya besar, lengkap dengan lampu dan pembonceng. Waktu Kang Muji menggenjot pedalnya, lampu itu menyala. Listriknya berasal dari dinamo kecil yang kepalanya beradu dengan karet ban depan.

Di langit barat Dukuh Dawuan tampak semburat warna lembayung. Awan-awan beriringan dari selatan tampak kuning tua. Semburat senja membentang di atas kaki langit cerah. Sementara di kaki bawahnya gelap menggaris sepanjang arah selatan ke arah utara. Gelap itu yaitu jejeran pepohonan dan bambu-bambu yang tidak terkena cahaya senja. Pepohonan itu berdiri di sepanjang pinggiran Kali Ewuh.

Di jalanan berdebu membujur ke selatan rupa kami timbul karam dalam laju bersepeda. Tubuh-tubuh kami tampak mulai terliputi gelap. Yang berpakaian warna putih terlihat menonjol. Yang berpakaian agak gelap apalagi hitam, hanya terlihat gerombolan hitam bergerak-gerak. Tak ubahnya orang-orangan yang berdiri di tengah sawah sepanjang kami memacu sepeda.

Kami pacu sepeda di tengah persawahan yang gelap. Udara dipenuhi serangga-serangga kecil yang hidup di tanaman padi. Belalang kecil-kecil dan jentik sering masuk ke hidung kami. Kami tidak peduli. Dalam bayangan kami Jaeni harus kami temukan dan bawa pulang sebelum setan itu membawa ke alam gaib.

Kami tidak bicara satu sama lain. Kami sibuk dengan pedal-pedal sepeda kami dan pikiran kami sendiri. Udara masbodoh turun di waktu malam ekspresi dominan kemarau tidak terasa oleh kami. Napas kami naik turun dengan cepat seirama dengan kecepatan kaki-kaki kami.

Pada tikungan pertama sesudah melintasi persawahan yang luas, Kang Muji mengarahkan sepedanya ke kiri. Kami segera mengikuti arah lampu sepeda Kang Muji. Ketika hingga di jalan pertama masuk Dukuh Pakel, sepeda Kang Muji belok ke kanan. Kami pun segera mengarah ke kanan. Sampai kami tiba di jalan yang lebih gelap di bawah gerumbul pepohonan besar. Lampu sepeda kang Muji membelah kegelapan jalan setapak itu.

Di jalanan menurun kami tidak sanggup berbuat apa-apa kecuali turun dari sepeda. Lampu sepeda Kang Muji redup. Kami menyalakan korek kapas. Sambil jalan beriringan di antara sepeda kami turun. Sampai kemudian kami lihat gubuk agak terang di pinggir kali. Ya, itu Kali Brantas yang terlihat dari liukan tubuh sungai. Di kanan-kiri sungai tampak gelap oleh rindangnya pepohonan.

"Ke mana larinya Jaeni?" tanya Kang Muji kepada orang di gubuk itu. Di samping gubuk terdapat bahtera penyeberangan yang ditambatkan di salah satu tiang gubuk.

"Ia lari ke arah gerumbulan di tegalan gelap itu. Temannya penakut. Tidak segera mengejar, tetapi malah berteriak-teriak minta tolong."

"Lalu?" potong Kang Muji.

"Sia-sia," jawabnya. "Saya mustahil meninggalkan bahtera ini. Bila malam sering air naik dan berbahaya bagi perahu. Saya tidak sanggup membantu. Saya suruh orang yang menemani Jaeni segera minta pertolongan ke kampung."

"Jaeni lenyap?" tanya Kang Muji menegaskan.

"Yah...." balas tukang perahu.

'"Hhhhh....Ayo segera naik ke tegalan itu. Kita cari Jaeni hingga ketemu!" perintah Kang Muji kepada kami.

Di tengah kegelapan yang menguasai pinggiran sungai itu, kami letakkan sepeda. Kami jejer dan kunci. Sepeda kami titip ke tukang perahu.

Kami segera naik ke tanah yang agak tinggi dan gelap. Tempat itu niscaya tegalan yang tidak terurus berupa pohon kelapa dan segala pohon besar lainnya. Kami meraba-raba dalam gelap. Luar biasa gelap. Kami mau temukan apa di sini? Di mana Jaeni yang hendak kami cari itu? Aneh ini.

Tapi, kami terus susuri tegalan gelap itu hingga di ujung jalan yang agak terang. Tampak rumah-rumah dengan lampu minyak di pasang di teras-teras rumah di Dukuh Pakel.

Kang Muji yang berada di depan kami, tampak ragu mau ke mana.

"Aku mau ketemu kepala dukuh dulu di ujung sana. Kalian sanggup ikut, tetapi sebagian tetap mencari Jaeni," kata Kang Muji.

Kami berpencar. Ada yang ke kiri masuk dalam jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah. Ada yang terus ke jalan dukuh yang agak lebar di antara depan rumah. Sementara saya bersama Kang Muji menuju rumah di ujung selatan dukuh. Rumah kepala dukuh berada persis di depan hutan jati perhutani.

Sampai di rumah kepala dukuh Kang Muji berkata bahwa ia sedang mencari Jaeni yang telah hilang sore tadi. Jaeni melompat waktu naik bahtera hendak menyeberang ke dusun selatan Kali Brantas.

"Mau ke mana Jaeni itu?" tanya Pak Kepala Dukung Pakel.

"Mau pulang. Mau bertemu bapak-ibunya di Dukuh Ngeni," kata Kang Muji.

"Ya, biar saja, kenapa dicari-cari ibarat memburu maling?" tanya Pak Kepala Dukuh.

Kang Muji menjelaskan Jaeni ini bukan mau pulang ibarat biasanya. Jaeni ini sedang dalam dampak mahkluk gaib. Ia sudah dua kali melarikan diri. Pertama ia berlari kencang dari rumahnya pada selepas petang ke arah tegalan di selatan kampung Dawuan. Ia tampak ibarat dikejar-kejar seseorang. Ia berlari sangat kencang dari rumah dan melintasi persawahan luas di timur rumahnya. Ia berlari diantara parit-parit kecil yang sulit dilalui. Tetapi, Jaeni sanggup menapakinya dengan mudah. Bahkan berlari kencang di atasnya. Kami sedukuh memburu Jaeni. Tua, muda, anak-anak, perempuan, pria berhamburan keluar rumah membawa penerangan seadanya mengejar Jaeni.

Jaeni berhasil dikembalikan ke dukuh. Ia sedang duduk menggigil di bawah pohon maoni di Kali Bukur. Ia duduk di antara kerikil padas di pinggir kali. Kami gendong bergantian si Jaeni di sepanjang pematang menuju ke Dukung Dawuan kembali. Tubuhnya lemas tidak berdaya.

Keluar dari rumah kepala Dukuh Pakel kami segera keluar mencari kembali si Jaeni. Kami diiringi Pak Dukuh. Pak Dukuh keluar menuju kentongan. Ia pukul kentongan bertalu-talu sehingga bunyi itu pertanda thithir. Suara bertubi-tubi pertanda sedang ada ancaman di Dukuh Pakel. Penduduk harus segera keluar rumah untuk berjaga-jaga.

"Telah hilang saudara kita Jaeni dari Dukuh Dawuan di utara. Orangnya pendek, kulit gelap, kepala plontos mengenakan kaos merah, celana panjang hitam, sandal jepit warna hijau!" teriak Pak Kepala Dukuh Pakel di sepanjang jalan tengah dukuh. Ia berulang-ulang meneriakkannya.

"Sore tadi sebelum gelap Jaeni masuk desa ini dari tambangan dukuh kita. Ia melompat dari bahtera dan masuk ke tegalan samping tambangan. Sampai kini belum ketemu. Kalau tahu orang dengan ciri ibarat Jaeni segara laporkan!" kata Kepala Dukuh.

Orang-orang Pakel keluar dengan obor di tangan. Mereka berjalan merayap di tengah malam mengelilingi desanya. Obor-obor menciptakan dukuh yang gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang. Diiringi bunyi kentongan bertalu-talu menciptakan Dukuh Pakel menjadi ibarat orang yang gres saja bangun tidur. Orang-orang dengan muka cemas disertai keingintahuan yang besar tampak di raut wajahnya.

Dukuh Pakel terletak bersahabat hutan jati. Dukuh ini sangat terpencil. Tidak ada desa di sekelilingnya. Sisi timurnya berupa hutan jati amat luas. Tidak ada dukuh lagi sebelah timur itu. Di arah selatan mengalir Sungai Brantas yang damai dan besar. Sungai ini bagaikan ular naga yang siap melahap apa saja ke dalamnya. Di utaranya yaitu persawahan yang sangat luas. Sehingga orang di sisi utara hanya akan melihat garis kaki langit dan perbukitan saja ketika memandang ke arah selatan. Pohon-pohon jati itu laksana rerumputan dipandang dari Dukuh Dawuan. Sementara sisi baratnya yaitu persawahan yang maha luas, sehingga sejauh titik memandang ke barat yaitu segaris hitam. Pada sore menjelang petang, Dukuh Pakel akan ibarat noktah hitam di tengah belantara kegelapan alam.

"Coba kita lihat di sumur bata merah di tengah dukuh," kata seseorang lelaki bau tanah di antara kami. Ia mendekat ke Kang Muji.

"Sumur itu ibarat besi sembrani. Ia akan menyedot apa saja yang bersifat gaib," kata orang bau tanah itu.

Tanpa pikiran panjang saya dan Kang Muji mengikuti Pak Tua ke Sumur merah yang dimaksud. Beberapa sobat dari Dukuh Dawuan juga ikut. Lelaki bau tanah itu berjalan dengan lampu minyak di tangan kanan. Kulit wajahnya berkeriput. Matanya agak keputihan. Rambutnya dibiarkan memanjang diliputi rambut berwarna putih.

Akhirnya kami tiba di sumur merah. Mulut sumur lebih luas dari sumur biasanya. Tidak ada tali dan bejana untuk mengambil air di dalamnya. Di sisinya tampak rumput-rumput memenuhi sekeliling sumur. Dalam gelap itu Pak Tua bicara.

"Sumur ini sudah ada semenjak sebelum saya lahir dan nenek-kakekku lahir. Sumur ini dipercaya obat dari segala penyakit dan dilema yang ada di dukuh ini. Segala penyakit dan peristiwa alam sanggup disembuhkan dengan sumur ini. Aku yakin si Jaeni tetanggamu itu masuk di dalam sumur ini."

Suara Pak bau tanah itu terdengar terperinci di antara kami. Kang Muji membisu saja mendengar klarifikasi Pak Tua. Ia bangun dari diamnya dan menyampaikan akan bertemu dengan pihak keluarga mertua Jaeni.

"Orangtua Jaeni sendiri di mana?"

"Di Dukuh Ngeni."

"Oooh...."

Dukuh Ngeni yaitu dukuh paling tersembunyi dan jauh. Dukuh ini hanya sanggup dicapai dengan jalan kaki. Jalannya sempit dan terletak di kaki bukit-bukit.

Esok harinya keluarga mertua Jaeni beserta istri tiba ke sumur merah dan Pak Tua. Dari ide yang diterima Pak Tua mahkluk mistik di sumur itu minta diadakan selamatan. Selamatan diadakan pada malam Selasa Wage di samping sumur merah. Dalam selamatan itu diminta sediakan kepala kambing warna hitam kelam. Seluruh bab kambing itu harus berwarna hitam.

Selamatan itu alhasil diselenggarakan. Dengan memaksa menjual apa saja mertua Jaeni berhasil menyediakan kepala kambing hitam mulus. Pak Tua menyampaikan seminggu lagi Jaeni akan pulang sendiri ke rumah mertua di Dukuh Dawuan. Mertua Jaeni percaya apa yang dikatakan Pak Tua itu. Mertua Jaeni yakin dengan mengadakan selamatan di tepi sumur merah menantunya sanggup ditemukan.

Jaeni yaitu menantu satu-satunya. Jaeni menikah lima tahun lalu. Jaeni mengaruniakan seorang cucu berjulukan Reko. Cucu ini persis ibarat Jaeni. Badannya gempal, tetapi pendek. Kulitnya kecoklatan, rambutnya tumbuh sedikit di kepala. Perlu usang untuk panjang, padahal temannya telah dua kali pangkas rambut.

Jaeni yaitu pelita bagi sang mertua. Ketiga anaknya semua perempuan. Ada Tri, Sulami, dan Is. Anak yang sulung berjulukan Is inilah yang kawin dengan Jaeni. Kehadiran Jaeni tidak lain impian bagi si mertua. Jaeni segera menggantikan dirinya sebagai kepala keluarga. Jaeni akan menggarap semua sawah yang ia miliki. Semua binatang piaraannya akan dipelihara Jaeni. Dia akan tentram menjalani hari tua.

Jaeni orangnya tertib dalam pandangan kami. Setiap hari ke sawah. Pulang dari sawah makan siang seraya istirahat sebentar. Usai lohor balik ke sawah dan pulang menjelang senja tiba dengan membawa satu karung besar berisi rumput untuk sapi. Rumput itu niscaya rumput yang terbaik dan telah dicuci higienis di Kali Ewuh sebelumnya. Malamnya tidak pernah nongkrong di perempatan jalan kawasan kami ngomong ngalor-ngidul hingga dini hari. Kadang kami tidak ke sawah lantaran kesiangan. Garapan sawah kami menjadi kacau. Air membludak melewati pematang sawah. Atau, sawah kekeringan berhari-hari lantaran tidak ada yang ke sawah. Kami sedukuh orang yang sering ngobrol yang tidak penting, tetapi sanggup menciptakan kami tertawa-tawa. Hidup kami melarat. Kadang kami makan sehari, kadang besoknya tidak. Pakaian kami compang camping tak beda dengan pengemis. Dinding-dinding rumah kami terdiri dari anyaman bambu peninggalan kakek-nenek kami. Kami tidur di atas tumpukan kayu dan jerami.

Kehadiran Jaeni menciptakan kami berubah. Kami mulai pergi ke sawah dengan rajin. Mengurangi pergi ke tetangga untuk bicara-bicara yang tidak perlu. Semua itu kami tiru dari Jaeni. Meskipun ia berasal dari Dukuh Ngeni yang terpencil dan teramat miskin, Jaeni orang pilihan di mata kami.

Untuk itu, kami harus menemukan Jaeni. Jaeni telah bersama kami lima tahun dan memberi contoh baik yang sulit kami temukan di warga Dukuh Dawuan. Kami harus temukan Jaeni. Jaeni harus menjadi milik kami. Kami tidak keberatan berlari-lari mengejar Jaeni. Menggenjot sepeda malam-malam buta. Berjalan di kegelapan yang menyiksa untuk memperoleh Jaeni kembali.

"Mustahil Jaeni kembali. Mustahil!" kata Rohkono menohok kepadaku di rumahnya pada sebuta pagi yang dingin. Matanya tajam menyorot ke mataku.

"Kau boleh percaya omonganku. Aku orang yang paling bersahabat dengan simbok-mu. Semenjak kecil saya tahu keluarga mbok-mu. Begitu juga keluarga mbok-mu, Mbah Jolah, sangat tahu keluargaku. Jadi, kamu boleh percaya omonganku."

Mbah Rohkono nyaris tak berkedip. Aku alihkan tatapanku lantaran tak besar lengan berkuasa dipandangi dengan tajam.

"Terus bagaimana Mbah?" kataku.

"Jaeni hilang, selamanya. Semenjak anaknya usia tiga tahun, Jaeni sudah diincar oleh tiga setan dari Gunung Emas. Pikiran Jaeni kosong semenjak dikala itu. Pikiran kosong sangat disenangi para setan. Mereka memboyong Jaeni ke sarangnya di Gunung Emas."

Aku tidak berkata-kata lagi. Diam terkesima mendengar penuturan Mbah Rohkono. Rokok klobot jagung yang digulung dibakar Mbah Rohkono. Baunya tajam memenuhi ruang tengah.

"Kau ini terlambat tiba ke sini. Sebenarnya pada kehilangan pertama, segera kamu ke sini. Masih sanggup saya selamatkan Jaeni. Aku pagari dengan gaibku. Para setan itu niscaya tidak akan menggondol Jaeni," bunyi Mbah Rohkono membelah kesunyian.

"Tetapi, kini segalanya sudah terlambat. Aku sudah tidak sanggup mengembalikan Jaeni hidup atau mati. Ia sudah berada di sarang para setan penunggu Gunung Emas."

Aku simak bunyi Mbah Rohkono dengan khidmat. Suaranya menyelinap dalam sanubariku yang paling dalam. Suara itu seakan mengalir bersama darah di sekujur tubuhku.

Mbah Rohkono tiba-tiba berdiri di hadapanku. Mengibaskan kemeja hitamnya. Aku mendongak untuk melihatnya.

"Dan ingat, tidak ada dukun mana pun yang sanggup mengembalikan Jaeni ini. Kau cari dukun di seantero Pulau Jawa tidak ada yang akan bisa. Kau dengar ya. Aku bersumpah minum air kencingnya bila ada dukun yang sanggup." Suara Mbah Rohkono tinggi meyakinkan. Seakan ada keraguan mengenai pernyataan yang ia buat bila suaranya datar.

Aku mengangguk. Aku tidak menjawab apa pun hingga kemudian Mbah Rohkono bangun dari duduknya kemudian berjalan ke pintu samping. Aku terdiam di ruang tengah. Aku disuruh orang dukuh untuk ke Mbah Rohkono untuk mencari bantuan. Aku dipercayakan oleh mertua Jaeni untuk menemui Mbah Rohkono. Aku berangkat berbekal salam dari mbok-ku. Tanpa salam itu mustahil saya pribadi diterima di kamar tengah Mbah Rohkono.

Tapi, apa yang akan kusampaikan di depan mertua Jaeni? Jaeni hilang digondol tiga setan ke Gunung Emas, begitu? Apa tidak akan pingsan dan digotong ke balai-balai apabila kutambahi Jaeni tidak akan sanggup dibawa pulang alasannya ia telah menjadi keraknya Gunung Emas?

Ucapan Mbah Rohkono saya simpan dalam hatiku sendiri. Tidak seorang pun kuberitahu. Aku yang merupakan keluarga jauh mertua Jaeni, tidak lagi semangat mencari Jaeni. Aku biarkan orang-orang berbulan-bulan lamanya tanpa kendur mencari keberadaan Jaeni. Aku peduli dengan Jaeni dengan cara kembali ke sawah dengan rajin. Mengairi sawah, menangkap tikus-tikus yang berkeliaran memakan tanaman apa saja di sawah, mencabuti rumput, memupuk, dan mengusir burung-burung ketika padi mulai menguning.

Orang-orang Dukuh Dawuan terus mencari tanpa peduli rumah tangga. Bertahun-tahun kemudian para wanita Dukuh Dawuan pergi ke pinggiran kota-kota menjadi buruh pabrik sepatu, termasuk istri Jaeni, Is, bersama anaknya. Mereka tinggalkan anak dan suaminya yang masih mencari Jaeni. Dukuh Dawuan menjelma semak belukar dan rumah-rumah tak ubahnya gugusan gubuk-gubuk.

Aku masih di sana di Dukuh Dawuan. Mengairi sawah hingga kemudian memanen padi. Menimbunnya di kamar khusus padi untuk persediaan bulan-bulan paceklik di masa mendatang yang sering menerpa Dukuh Dawuan. Saat itu saya menjadi teringat Jaeni.

Karawang, Agustus 2018

Catatan:
Tambangan: jasa penyeberangan sungai dengan memakai bahtera yang banyak ditemui di Sungai Brantas, khususnya sebelum banyak dibangun jembatan. Perahunya terikat pada tali/tambang kawasan roda yang bertali menghubungkan dengan ujung perahu. Perahu tinggal dikayuh dengan dayung berupa galah atau ditarik dengan tali lain yang menghubungkan tiang di kedua sisi sungai.

Imam Muhtarom buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan (Grasindo, 2007), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Rebecca Fanany dari Deakin University Australia untuk agenda Frankfurt Book Fair 2015 berjudul The House that Looked Blue in the Moonlight. Peneliti etika tradisi di pesisir pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (2016-2018), kini aktif di Asosiasi Tradisi Lisan, kurator pada Borobudur Writer and Cultural Festival, dan dosen.

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan abjad detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini

Luncurkan Buku The Naked Traveler 8, Trinity Jumpa Pembaca Hari IniLuncurkan Buku 'The Naked Traveler 8', Trinity Jumpa Pembaca Hari Ini Foto: Asep Syaifullah/detikHOT

Jakarta - Penulis Trinity bakal menjumpai pembacanya hari ini lewat peluncuran buku 'The Naked Traveler 8'. Momen tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Trinity.

Peluncuran buku bersifat terbatas dan khusus pembaca beruntung yang mengikuti sistem pre-order seri perpisahan tersebut. Kepada detikHOT, Trinity menuturkan peluncuran bukunya ditetapkan pada 11 Januari.

"Kebetulan pas ulang tahun saya dan yang mengikuti farewell 'The Naked Traveler' cuma pembaca yang beruntung saja," kata Trinity di kantor detikHOT tempat Tendean, Jakarta Selatan, belum usang ini.



Trinity mulai menuliskan perjalanannya di blog pada 2005 lalu. Selama 11 tahun, Trinity menulis kisahnya ke blog dan juga buku yang diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka.

Selama 11 tahun pula, Trinity mengakui ada banyak perubahan dalam karya maupun gaya jalan-jalan.

Tonton video: Pensiun, ''The Naked Traveler'' Berakhir di Seri ke-8

[Gambas:Video 20detik]


""Dari segi cara menulis tentu berbeda. Kalau nulis yang awal kok kayak gitu. Tulisannya kini lebih bermakna, lebih mature, dan mendalam," pungkasnya.

Diterbitkan oleh Bentang Pustaka, peluncuran bakal berlangsung di TEMPO Institute, tempat Palmerah, Jakarta Barat.



Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers And Readers Ekspo 2019 Dibuka

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers And Readers Ekspo 2019 Dibuka

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 DibukaSeleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Foto: UWRF/ Istimewa

Jakarta - Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019 segera hadir 23-27 Oktober mendatang. Yayasan Mudra Swari Saraswati forum yang menaungi UWRF pun membuka seleksi agenda penulis emerging atau pendatang baru.

Pemilihan pemenang menurut sejumlah kriteria di antaranya kualitas karya, prestasi, dan konsistensi dalam berkarya. Dalam keterangan pers yang diterima detikHOT, persyaratannya merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan.

Karyanya pun merupakan karya fiksi berupa novel, dongeng pendek atau puisi, serta belum pernah diterbitkan. Isunya dapat apapun dari info sosial, budaya, hingga lingkungan. Seluruh karya pun bakal diseleksi dewan kurator yang terdiri dari tim penulis Indonesia.

Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Seleksi Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2019 Dibuka Foto: UWRF/ Istimewa

"Karya terpilih akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan ke dalam buku dwi bahasa antologi 2019," tulis keterangan pers.

Program penulis emerging sukses memperkenalkan penulis Indonesia ke kancah internasional. Di antaranya mereka yaitu Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Aprila R.A Wayar (2012), Bernard Batubara (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erikson Pasaribu (2015), Azri Zakkiyah (2016), Ibe S. Palogai (2017), dan Andre Septiawan (2018).

Batas final pengiriman hingga 15 Maret mendatang. Karya terpilih diumumkan final Mei.


Lee Mingwei Akan Selesaikan Lukisan Pasir Yang Ada Di Museum Macan

Lee Mingwei Akan Selesaikan Lukisan Pasir Yang Ada Di Museum Macan

Lee Mingwei akan Selesaikan Lukisan Pasir yang Ada di Museum MACANLee Mingwei akan Selesaikan Lukisan Pasir yang Ada di Museum MACAN Foto: Museum MACAN

Jakarta - Museum MACAN tengah memamerkan karya 3 seniman Asia hingga Maret mendatang. Akhir pekan ini, seniman Lee Mingwei asal Taiwan/Amerika bakal menuntaskan lukisan pasir yang menjadi salah satu karya di festival tunggal 'Tujuh Kisah'.

Di karya seni instalasi 'Guernica in Sand' (2006-2018), Lee Mingwei akan menuntaskan bab lukisan yang belum selesai. Pengunjung diundang untuk berjalan di atas pasir.

Nantinya seniman dan audiens menjadi bab dari proses penciptaan dan penghancuran yang berlangsung secara simultan. Aksi Lee Mingwei dimulai dikala siang hari hingga matahari terbenam pada Sabtu (19/1), sesudah pengunjung terakhir berjalan di atas pasir, Lee dan tiga penampil akan menyapu lukisan itu.



Serta membiarkannya dalam kondisi tersebut hingga simpulan pameran. 'Guernica in Sand' ialah karya instalasi berskala besar yang terinspirasi dari lukisan Pablo Picasso 'Guernica'.

Lukisan Picasso tersebut menjadi simbol universal antiperang dan perdamaian. Di hari yang sama, dalam karya 'Our Labyrinth' pengunjung akan berjalan mengelilingi pameran.

Nantinya akan ada seorang penari yang perlahan-lahan menyapu gundukan beras dengan sebuah sapu. Serta membuat contoh yang menjadi jejak visual dari gerakan mereka. Performans di karya Lee Mingwei bakal dimeriahkan oleh penari dari Jambi, Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Esok harinya pada Minggu (20/1), Museum MACAN menyediakan sesi minum teh bersama yang bakal mengenal lebih jauh proses kreatif di balik karya-karya Lee Mingwei. Sesi ini berbayar dibanderol Rp 150 ribu.



Petualangan Spider-Man Berlanjut Di Komik Friendly Neighbourhood

Petualangan Spider-Man Berlanjut Di Komik Friendly Neighbourhood

Petualangan Spider-Man Berlanjut di Komik Friendly NeighbourhoodFoto: Sony

Jakarta - Petualangan semesta Spider-Man belum berhenti. Di komik 'Friendly Neighbourhood Spider-Man #1' yang terbit pekan ini di AS, kisahnya berlanjut di lingkungan rumah Peter Parker atau Spider-Man dan Bibi May.

Komik yang disebut salah satu komik terbaik yang terbit di awal tahun menceritakan hubungan antara Peter Parker dan bibinya, May. Di panel awal, May menulis surat kepada Peter, "Peter sayang, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau khawatir."

Sepanjang cerita, pembaca akan melihat adegan di antara keduanya. Bibi May pun seakan tidak mau segala permasalahan menumpuk.



Akhirnya May dan Peter bertemu di rumah, namun permasalahan keduanya belum selesai. Bibi May diketahui mengidap kanker dan adegan menyebutkan ia berada di Pusat Kanker Maria Wheelock.

Ditulis oleh Tom Taylor dan Juann Cabal, komik 'Friendly Neighbourhood Spider-Man #1', menghadirkan lingkungan rumah yang para tetangga merasa Spider-Man ialah tetangga terburuk. Di sisi lainnya, ada yang merasa Spider-Man ialah tetangga terbaik.



The Notebook Disesuaikan Ke Panggung Musikal

The Notebook Disesuaikan Ke Panggung Musikal

The Notebook Diadaptasi ke Panggung Musikal'The Notebook' Diadaptasi ke Panggung Musikal Foto: Dok. New Line Cinema

Jakarta - Ingat dengan film romantis 'The Notebook' yang tayang di 2004? Film yang diperankan Ryan Gosling dan Rachel McAdams itu diubahsuaikan ke panggung musikal.

Kisah cinta yang berasal dari novel roman Nicholas Sparks akan diproduksi oleh Kevin McCollum dan Kurt Deutsch. Adaptasi ke musikal juga bekerja sama dengan sang novelis yang karyanya laku di 1996 lalu.

Musisi dan penulis lagu Ingris Michaleson didapuk sebagai penulis lagu bagi pertunjukan ini. Naskahnya ditulis oleh penulis drama Bekah Brunstetter.



"Sejak hari pertama planning pembiasaan 'The Notebook', Ingrid dan Bekah telah mempunyai visi yang terperinci untuk pertunjukan ini dan di tahap awal ini terbukti sebagai kerja sama yang menarik dan membuahkan hasil," katanya dilansir dari Hollywood Reporter, Kamis (10/1/2019).

Menurut sang produser, cerita pasangan di 'The Notebook' sangat menyentuh.

"Kisah ini menyentuh aku dan terjadi di negara asal aku di North Carolina, dan alzheimer terjadi di keluarga saya," katanya.

Meski sudah mengumumkan mengenai tim inti dari pembiasaan musikal 'The Notebook' namun pihak produser belum merencanakan tanggal pertunjukannya. "Aku membayangkan banyak penonton yang akan tersentuh dengan cerita pasangan ini," pungkasnya.



Pada Hari Saat Bersamamu Melukis Di Atas Air

Pada Hari Saat Bersamamu Melukis Di Atas Air

Pada Hari Ketika Bersamamu Melukis di Atas AirIlustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom

Jakarta - Perihal cintaku padamu, rumusnya sederhana. Bila semakin erat saya semakin bahagia, sebaliknya bila engkau jauh saya resah-itu rumus pertama. Melihatmu senang saya turut bungah, bila kamu susah saya juga akan ikut merana-rumus kedua. Dan, rumus ketiga-aku ingin menjadi satu-satunya yang paling erat denganmu, kalau ada yang lain saya akan asing alasannya ialah cemburu. Sesederhana itu teorinya.

Namun, soal praktik tidak gampang untuk secara lugas memaparkan cintaku padamu. Aku ingin erat denganmu. Namun, selalu, ketika saya mendekat saya malah takut akan muncul bab dari diriku yang menunjukkan bahwa saya sama sekali tidak pantas untuk kamu pandang dengan mata indahmu.

Maka, saya hanya memandangimu dari jauh.

Tiap hari saya memperhatikanmu yang selalu pergi ke tepi danau untuk duduk di ujung dermaga kayu. Sudah usang tak ada bahtera sandar di sana, sehingga ia sekarang seolah khusus menjadi singgasanamu. Kau melukis di sana. Tanpa kanvas. Hanya dengan memainkan ujung jari yang telah tercelup sumba di atas permukaan air, akan muncul rupa-rupa garis beraneka warna di sana. Meski kemudian, dalam hitungan paling usang sepuluh menit lukisaanmu segera terhapus oleh gerakan air. Tapi, tidak mengapa alasannya ialah justru dengan itu kamu sanggup terus melukis tanpa kehabisan kanvas.

Lukisanmu tak buruk, cukup indah-kuakui itu. Namun, bagaimanapun, tetap saja, keindahan yang sebetulnya ialah dirimu, wajahmu, suaramu, senyummu. Dirimu yang berkulitkan kilau cahaya, berambut gerai air terjun, dan berpipi manis buah delima ialah keindahan yang paling sempurna. Bibir mungilmu yang merah jambu sering berganti bentuk. Kadang tersenyum, kadang manyun, kemudian tergigit ujung gigimu. Sesekali juga mendadak datar, kemudian berubah sendu.

Kedua tangan kecilmu selalu ingin kurengkuh. Tungkai kakimu bersembunyi manis di balik rok putih yang ujungnya berair tercium air danau. Kedua bola matamu seindah permata. Selalu saya ingin menatapnya, namun tak pernah kulakukan alasannya ialah takut kamu akan menatapku balik dengan cara yang tak sama dengan saya melakukannya.

Maka, saya hanya berpura-pura asyik sendiri di markas pengintaianku di bawah pohon kers, berteduh, kadang melompat-lompat untuk memetik buah-buah kecilnya. Kadang pula saya memanjat pohon itu, meraih buah kers di ujung dahan tertinggi, kemudian usil melemparkannya ke arahmu. Sejenak engkau menoleh, tapi saya malah membuang muka, berpura-pura bukan saya yang melakukannya.

Namun, sekali itu kamu memanggilku. Tidak biasanya. Aku pun mendekat sehabis beberapa detik berpura-pura bodoh. Kau ingin saya mengomentari lukisanmu, bahkan mendesakku untuk itu.

"Cepatlah, lima menit kamu diam, lukisanku akan menghilang," pintamu.

Aku memang masih melongo dikala itu, antara senang dan tegang. Entah apa yang harusnya kukatakan. Aku gagap soal seni.

Maka, dengan asal saja saya lanturkan kritikan dan masukan. Kukatakan kurang beberapa warna, terlalu banyak ukiran ragu-ragu, ada kesan takut salah, dan terlalu berhati-hati. Entah yang kukatakan itu benar atau tidak. Tidak masalah. Toh, tepat sehabis kuakhiri pidato panjangku, lukisanmu terhapus oleh anutan air. Benar atau salah, tak ada bukti untuk menuduhku.

Aku hanya berharap kamu tidak tersinggung dengan segala bualanku. Ternyata, memang tidak. Kau malah tersenyum.

"Mau melukis bersamaku?" tanyamu anggun sambil memiringkan kepala.

Tubuhku bergetar, hampir terkejang. Aku ingin menggeleng, namun kepalaku terangguk. Engkau pun menggeser posisi dudukmu, dan memindahkan mangkuk-mangkuk sumba pewarna lebih erat padaku.

Kita segera memulai. Goresan pertama kamu buat dengan warna hijau. Aku kamu minta menciptakan ukiran selanjutnya. Maka, kucelupkan ujung jariku ke dalam sumba warna merah, kemudian kuarahkan ke atas air.

Kuhentikan sementara gerak tanganku. Sempat saya berharap dengan itu kamu akan meraih tanganku untuk menuntunku menciptakan goresan. Aku ingin, meski cuma sekali, tangan kita bersentuhan. Tapi, sehabis kutunggu kamu tidak melakukannya. Maka, saya gerakkan sendiri tanganku untuk menciptakan garis lurus yang tepat sejajar dengan garis yang kamu buat. Kugambar sedekat mungkin dengan garis hijaumu, namun tak hingga bersentuhan. Tepat menyerupai diriku yang selalu ingin dengat denganmu, namun tak berani masuk lebih jauh menjamah kehidupanmu.

Tujuh menit berselang, kita pun selesai. Jangan bicara soal bagaimana sepertinya lukisan kita. Dibandingkan ketika kamu melukis sendiri, goresan-goresanku hanya mengganggu. Tidak membantu sama sekali. Padahal tadi dengan mantap kuhakimi engkau ini dan itu. Kini, sanggup kamu lihat sendiri saya hanya lelaki bermulut besar. Aku tak sanggup melukis, hanya menciptakan goresan-goresan yang mengikuti arah goresanmu, warnanya saja yang beda. Tiap kamu menciptakan garis bentuk apa pun, saya menciptakan yang serupa, sejajar, sangat rapat, namun juga sangat hati-hati biar tak hingga bersentuhan dengan garis-garismu.

Kau tampak ingin menggores lagi, namun resah hendak di mana menuangkan warna. Lukisan kita sudah memenuhi bidang empat kali satu meter persegi di atas air. Biasanya, tak pernah engkau melukis sepanjang itu.

"Menurutmu lukisan kita sudah jadi?" tanyamu.

Aku membisu mengerutkan kening, akal-akalan berpikir. Tidak, ini belum jadi.

Dalam pandanganku, lukisan itu hanya menyerupai dua lukisan yang ditumpuk jadi satu. Memang kita menggores garis demi garis bersama. Namun, tak ada persinggungan antara garisku dan garismu. Seharusnya, entah pada satu atau dua titik, garis kita bertemu, bercampur, bersinggungan. Baru sanggup disebut lukisan bersama kita.

Aku bersihkan tanganku dengan ujung lengan baju, menghilangkan sisa sumba. Aku bermaksud mengaduk air biar warna garis-garis kita berpadu. Tapi, kamu mencekal tanganku.

"Tunggu! Sebentar!"

Tangan kita bersentuhan. Tidak! Bahkan kamu pegang tanganku.

Aku menunggu menyerupai yang kamu minta. Tubuhku gemetar. Bola matamu memperhatikan lukisan kita. Mataku menatap bola matamu.

"Lihat, indah sekali!" sekali lagi kamu berseru.

Dua detik berikutnya kamu memandang ke arahku. Aku mengalihkan pandangan dari wajahmu ke arah lukisan kita.

Ya, lukisan kita sudah jadi. Aliran air yang bergerak perlahan menciptakan garis-garis kita yang awalnya hanya berdekatan jadi bersentuhan, kemudian bercampur. Terjadi secara alami, tanpa perlu saya mengaduknya.

Beberapa dikala kemudian kita sama-sama melongo memandang bagaimana anutan air menuntaskan lukisan kita. Sangat perlahan. Hingga kemudian, pelan-pelan pula lukisan kita itu terhapus, juga oleh anutan air yang sama. Air membawanya menjauh, menelan warna-warna sumba ke dalam arus.

Selama itu tangan kita masih bersentuhan. Tanganmu memegang tanganku. Entah engkau sadar atau tidak melakukannya. Atau, mungkin engkau sadar, namun akal-akalan tidak sadar.

Sedangkan, diriku sendiri berada di antara sadar dan tidak sadar. Aku hanya merasa sangat senang dikala itu. Bahagia alasannya ialah sanggup berada erat denganmu, bahkan tanganku kamu genggam. Saking bahagianya, sampai-sampai sulit kupercaya kebahagiaan seindah ini hanya tercipta alasannya ialah kedekatan saya padamu. Pundak kita bersinggungan. Aku sanggup mencium aroma rambutmu.

Setelah lukisan kita benar-benar menghilang, kamu melepas tanganku. Aku terusik, namun sadar bahwa memang sudah saatnya kita kembali pada jarak. Aku beringsut menjauh. Hanya satu jengkal, namun cukup untuk menciptakan bahu kita tak lagi bersentuhan. Aroma rambutmu menjauh.

Engkau melirik mangkuk-mangkuk sumba, mungkin ingin mengajakku melukis lagi. Mungkin. Tapi, saya menampik kemungkinan itu. Aku pamit untuk kembali ke markasku, di bawah pohon kers. Di sanalah saya akan selalu berada, untuk mencuri-curi pandang ke arahmu, sembari menjaga diriku biar selalu erat denganmu, tapi jangan hingga bersinggungan. Kalau nanti takdir menghendakinya, dengan sendirinya kita akan bersatu dengan cara yang lebih indah. Tidak perlu memaksa menyilangkan garisku dan garismu. Apalagi mengaduknya.

Di bawah pohon, saya mendongak. Kutemukan beberapa butir buah kers yang merah dan masak. Kupetik dua buah. Sebutir kumakan, sebutir yang lain saya lemparkan ke arahmu. Engkau menoleh, tapi saya akal-akalan melihat ke arah lain, akal-akalan bukan saya yang melemparnya. Lalu, kamu berpura-pura membenahi rok putihmu-aku tahu sebetulnya kamu sedang memungut buah kers yang kulempar. Dan, ketika kamu kembali memalingkan wajahmu dariku, rahasia engkau memasukkan buah kecil itu ke mulutmu.

Manis, bukan? Aku juga merasa buah kers itu benar-benar manis.

Hasan ID tinggal di Besuk Sempilan, Sukodono, Sidoarjo. Aktif di komunitas Malam Puisi Sidoarjo. Buku kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Monster atau Sesuatu yang Sejenis Dengan Itu

Redaksi mendapatkan kiriman naskah cerpen, tema bebas, diubahsuaikan dengan abjad detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com